Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jika Harus Membeli Masa Lalu

0

Masa lalu adalah sesutu hal yang harus dkubur atau dilupakan, jika itu buruk maka simpanlah jangan Anda ceritakan lagi kepada siapapun. Jika menurut Anda indah namun tetap tidak baik bagi orang lain, maka jangan Anda ceritakan pula cukuplah Anda saja yang tahu. Apalagi jika Anda telah memiliki pasangan, Anda harus mampu menjaga aib-aib masalalunya.

Sebenarnya cukup disayangkan permasalahan yang begitu besar itu disangga pasangan itu cukup lama tanpa ada permintaan tolong pada orang yang dipercayai untuk mencoba mencari jalan keluar. Mereka mengira bisa menyangga beban itu berdua saja, yang mana komunikasi keduanyapun sebenarnya dalam tahap lampu kuning menuju merah, dan sebenarnya ini juga merupakan salah satu hal terbesar dalam pernikahan mereka: kerap miss komunikasi.

Perkara mendasar dari seorang yang sedang bermasalah dalam pernikahan tentu tak mau menjadi biang dalam keretakan tersebut. Biasanya selalu sibuk mencari pembenar, walau sebenarnya sudah terang benderang jika ia juga menjadi pemicu utamanya, meski diakui biasanya sesuatu itu bisa menjadi yang utama akibat peran ‘pendamping’. Permasalahannya menjadi sangat kompleks dan berbelit yang akhirnya sepertinya menunggu bom waktu meledak menuju gerbang perceraian.

Saat teman saya itu mulai bercerita tidak mau hanya dirinya saja yang dibuka ‘aib’nya oleh pasangannya, yang kebetulan juga curhat pada suami saya, maka saya mulai paham jika sebenarnya teman saya itu tidak mau jatuh harga dirinya hanya gegara kami mengetahui ‘aib’nya. Padahal, curhat pasangannya itu sama sekali tak menyebut apalagi menghitung kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan olehnya, maka janganlah berburuk sangka terlebih dahulu pada pasangannya, karena hal itu terkadang membuat situasi menjadi fatal.

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhori (5606)).

Hadist diatas memang sangat jelas, dimana seseorang yang berprasangka buruk adalah hal yang dianjurkan dijauhi karena berefek tidak baik, apalagi sebenarnya hal tersebut tidak terbukti. Apalagi sudah berprasangka, kemudian mendiamkan pasangannya.

Apalagi jika hanya fokus pada masa lalu yang buruk, baik kisah pasangannya atau kisahnya sendiri yang kelam. Mengapa harus membeli kembali masa lalu? Sebuah quote bijak mengatakan:”Kita tak cukup kaya jika ingin membeli masa lalu”. Quote ini cukup menggelitik untuk diulik. Memang ada harga yang harus dibayar saat orang mengotak-atik dan memanggil kembali masa lalu. Namun jika hal itu membuat keadaan jiwa secara psikologis semakin buruk, mengapa hal tersebut diteruskan untuk dikupas, dibicarakan bahkan diolah untuk dijadikan bahan sakit hati dan mimpi buruk yang menghantui setiap hari setiap saat dan langkah.

“Mengapa harus terbelenggu masa lalu? Jika masa lalu kita dan pasangan itu buruk dan berakibat fatal jika selalu saja diingat, maka lebih baik lupakan. Tutup buku, saling memaafkan atau yang lebih baik lagi jika Anda yang mengawali mengulurkan tangan minta maaf. Tak perlu menghitung-hitung kesalahan orang lain, atau pasangan yang dianggap lebih parah darimu dan mulai tatap masa depan…”, begitu nasehatku mengalir pada teman ini.

Memang bukan perkara mudah untuk memulai lembaran baru, tapi sepertinya ini sangat urgent untuk dilakukan pada pernikahan yang sudah diunjung tanduk. Jalinan komunikasi yang membeku, harus dicairkan dengan upaya yang tak sekedar evolusi, namun sudah tahap revolusi.

Masa lalu sangat boleh diingat jika untuk momentum kebaikan, ia akan memberi ruh positif pada setiap jiwa, pengingat hati yang lupa, hingga tunduk penuh syukur, maka belilah dengan harga berapapun karena itu akan sangat membahagiakan. Jika sebaliknya, maka sebaiknya jangan. Banyak pertaruhan yang harus diterima. Apabila pertaruhan itu menyangkut kehidupan pernikahan kita, sebaiknya jangan pernah membeli masalalu, karena tak pernah cukup uang untuk membayarnya… []

Sumber: Ummi Online



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline