Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Tips Untuk Meminimalisir Rasa Baper

0

Jangankan orang sensitif, orang yang biasa-biasa saja bisa terkena baper (bawa perasaan, tersinggung). Sayangnya, sering kali sifat gampang baperan ini membuat orang lain tidak nyaman dan rikuh dalam berinteraksi dengan kita. Oleh sebab itu, perlu menempatkan sifat baper ini pada kondisi yang tepat.

Nah, yang kebetulan punya kepekaan atau sensitifitas tinggi, apalagi yang sedang PMS, datang bulan, atau hamil, mungkin secara hormonal lebih peka daripada kondisi biasanya, berikut ini tips untuk meminimalisir perasaan baper, antara lain:

1. Tandai orang-orang yang perkataannya nyelekit

Kenapa perlu ditandai? Karena orang-orang yang memang sering bicara nyelekit atau menyakitkan sebaiknya ucapannya tidak perlu dimasukkan dalam hati. Itu sama saja menyiram api dengan bensin, malah bikin kebakaran hebat.

Kalau setiap ucapan orang ini kita masukkan ke hati, dibawa perasaan, bisa-bisa kita terluka setiap harinya. Padahal yang bersangkutan tidak merasa menyakiti.

Biasanya sih pastilah ada teman atau tetangga sekitar yang ucapannya blak-blakkan, tidak disaring terlebih dahulu, pilihan katanya kasar, atau terlalu jujur yang bikin sakit hati, sebaiknya latih diri untuk menghadapi orang-orang seperti ini dengan sikap lebih santai.

Ingat bahwa kita tidak bisa mengubah orang lain menjadi seperti yang kita inginkan, kekuasaan dan wewenang kita hanya pada diri sendiri saja.

Jika kita sudah bisa tertawa-tawa atau santai saja menghadapi orang jenis ini, maka in syaa Allah hidup kita akan lebih nyaman, hati kita lebih sehat.

2. Baperlah hanya untuk hal yang penting

Melihat kondisi Rohingya, Suriah, dan Palestina….. sangat perlu baper. Dalam artian, kita peduli dan memasukkan persoalan genting tersebut dalam pikiran dan hati kita.

Persoalan akidah juga bukan hal main-main. Misalkan ada yang menjadikan agama Allah dan RasulNya sebagai olok-olokan, maka kita perlu sekali baper dan menindaklanjuti hal tersebut secara serius.

Akan tetapi jika hanya menghadapi kritikan terhadap penampilan kita, hal yang bersifat materi/finansial, atau fisik, sebaiknya tidak usah dibesar-besarkan apalagi sampai dibahas terus-terusan:

“Dia bilang gigiku bengkok, yaa ampun… sakit hati banget aku, kenapa dia menghinaku seperti itu sih… ku doakan semoga gigi dia bengkok juga. Sampai akhirat gak bakal kumaafin penghinaan ini.” Tentu bukan hal besar yang pantas untuk membuat kita gusar.

3. Sadari bahwa diri kita memang sensitif, maka latih diri untuk terus menjaga hati

Jangan menyangkal bahwa kita orang yang sensitif dan mudah baper. Akui sajalah kelebihan yang satu ini.

“Nggak tuh… saya bukan orang gampang baperan. Apa-apaan sih kamu menuduh begitu? Jelas-jelas saya nggak gampang tersinggung…”

Loading...

Semakin disangkal, semakin sulit disembuhkan. Orang yang tidak tahu dia sakit, tidak akan berusaha menyembuhkan penyakitnya.

Meskipun baperan bukanlah sebuah penyakit, akan tetapi perumpamaan ini memperlihatkan bahwa dengan mengenali sifat kita yang mudah baper, kemudian mengakuinya dengan jujur, maka kita akan lebih mudah mengontrol perasaan baper tersebut, ketimbang kita terus menolak disebut baper.

Hal ini terjadi karena kita akan lebih aware serta berhati-hati menjaga hati, juga melatih diri agar tidak terus-terusan gampang tersinggung.

4. Belajar memaafkan

Menjadi orang sensitif memang anugerah sekaligus ujian. Di satu sisi sifat ini sangat baik karena tingkat kepekaan emosionalnya tinggi, mudah berempati terhadap orang lain, namun di sisi lain juga bisa menjadi boomerang karena mudah terluka dan sakit hati.

Di sinilah kita perlu belajar memaafkan, juga melupakan kesalahan orang lain pada diri kita, karena kemungkinan besar… orang lain tidak sengaja menyakiti hati kita.

Sangat mungkin hati mereka terlalu tebal dan keras untuk menyadari bahwa apa yang mereka katakan atau lakukan telah menggores luka bagi orang lain. Jadi, ambillah keuntungan sebagai orang sensitif, tukar kemaafan kita dengan ampunan Allah. Semakin banyak tersakiti, semakin banyak memaafkan, semoga semakin besar ampunan Allah untuk diri kita. []

Sumber: Ummionline



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline