Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Suami Langka Itu Seperti Apa? Ini Nih!

0

Beruntunglah jika kita memiliki suami yang dekat dengan anak dan mau meluangkan waktunya bersenda gurau, mendampingi anak belajar, mengajak jalan-jalan menyisir tepi persawahan sambil menceritakan keindahan alam ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla, barangkali itu merupakan sesuatu yang langka.

Kesibukan suami mencari nafkah tak jarang menjadi alasan kebanyakan suami untuk menghindar dari anak-anak dan lebih suka menjauhkan diri, mencari ketenangan untuk beristirahat, rebahan berjam-jam hingga tertidur. Menonton televisi, melakukan kegiatan hangout di luar bersama kawan-kawan sekantornya, tanpa mau ribet mengajak anak yang menurutnya hanya menganggu kesenangan saja.

Tugas mendidik dan mengasuh anak merupakan tanggung jawab bersama, antara suami dan istri, bukan hanya salah satu dari mereka (ibu saja atau ayah saja). Sebab, anak terlahir di dunia bukan hasil dari istri saja, melainkan kerja sama antara suami dan istri tentunya.

Ketika anak terlahir ke dunia, membutuhkan jalinan yang erat dengan kedua orang tuanya, jadi tidak hanya ke ibunya saja. Belaian seorang ayah kepada anak-anak akan mengalirkan energi positif yang sangat dibutuhkan anak antara lain; mendewasakan anak (tidak manja), anak mempunyai naluri ketegasan (tak gampang dibully), menjadikan mereka pribadi-pribadi yang kuat, mencerdaskan otak anak, serta menciptakan kekaguman mereka terhadap ayahnya. Suami yang cuek dan masa bodoh dengan pengasuhan anak, dingin, dan menganggap tak perlu memberikan kasih sayang berupa sentuhan, ciuman sayang kepada anak-anaknya, akan berimbas pada jauhnya hubungan antara ayah dan anak. Hal seperti ini banyak terjadi di sekitar kita.

Mungkin kita pernah mendapati curhatan seorang ibu yang mengeluhkan keadaan yang demikian. Dimana anak-anaknya tidak mau jika tak sama ibunya. Maunya hanya sama ibunya, dengan ayahnya seperti dengan orang lain. Dan jika terpaksa bepergian bersama ayahnya, maka tak ada keluwesan hubungan anak dan ayah, dan jalinan serta komunikasi yang teramat kaku antara ayah dan anak.

Bahkan, ada suatu kejadian nyata ketika anak ikut bersama ayahnya, si anak mengompol karena anak tak berani mengungkapkan kepada ayahnya. Situasi yang seperti ini mudah ditebak latar belakangnya, dimana sekat yang begitu kuat membatasi jalinan keakraban ayah dan anak.

Letak kekeliruan yakni pada suami yang tidak mampu mewujudkan kasih sayangnya terhadap anak, sehingga anak juga merasa segan dan takut mengutarakan apa yang sedang dialaminya.

Shalihah, jika suami selama ini sangat berperan dalam membesarkan anak-anak, mendidik, serta ikut andil dalam menyelami dunia anak-anak, bermain dan bercanda bersama anak, walaupun harus rela memangkas sebagian waktu rehatnya, berkurang porsi tidurnya sehingga antara anak dan ayahnya memiliki hubungan yang amat solid, maka sangat beruntunglah istri yang memiliki suami seperti ini. Sebab, suami yang semacam ini tidaklah banyak, dan berat jika dikatakan tidak ada.

Suami yang rela mengerahkan sebagian tenaganya, disamping tugas utama mencari nafkah, untuk bercengkerama dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap anak merupakan harta tak ternilai yang menjadi pondasi terwujudnya harapan dan cita-cita anak kelak. Kasih sayang ayah adalah bentuk dorongan yang menjadikan anak memiliki kepercayaan diri yang baik.

Suami adalah kepala rumah tangga sekaligus menjadi pengayom serta figur yang akan menjadi panutan anak-anaknya. Ketika suami sayang terhadap anak dengan segala kasihnya yang tak terhingga, meskipun secara kasat mata seorang suami tidaklah pernah ikut melahirkan, maka akan terasa besar sekali kelebihan yang akan didapat anak dibandingkan dengan anak yang tak dekat dengan ayahnya.

Shalihah, bersyukurlah istri kepada suami yang sangat menyayangi anak-anaknya, jangan pernah menyepelekan dan menganggap suami yang sayang dan dekat kepada anak adalah hal biasa, yang memang wajar dan seharusnya begitu. Sadarlah, bahwa tak semua suami bersedia di sela-sela capeknya pulang dari mengais rezeki untuk kebutuhan keluarga, mau bersenda gurau dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak seputar pelajarannya di sekolah. Suami yang seperti ini adalah anugerah. []

 

Sumber: ummionline

Maaf Ukhti Antum Offline