Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Penting, 3 Tipe Keluarga yang Harus Diketahui!

0

Shalihah, pendidikan merupakan upaya memengaruhi, membimbing, dan mengarahkan yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa agar dewasa secara integral baik cipta, rasa, maupun karsanya. Keluarga yang dalam pendidikan merupakan jalur informal adalah bagian terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, ditambah kerabat lain seperti kakek dan nenek.

Setiap anak yang lahir dalam suatu keluarga dalam keadaan fitrah atau suci, yang dalam perkembangannya akan menjadi penyejuk mata (QS Al-Furqon: 74), hiasan yang membawa ke surga (QS Al-Kahfi: 46), menjadi  fitnah/ cobaan keimanan orangtua (QS Al-Anfaal: 28), atau bahkan menjadi musuh orangtua dan keluarganya (At-Thagaabun: 14).

Keluarga merupakan wadah utama dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Dalam pertumbuhannya, ada beberapa tipe keluarga yang perlu diamati, yaitu:

1. Keluarga Pragmatis

Keluarga yang pragmatis akan memperlakukan dan mendidik anak sama persis seperti apa yang dilakukan orangtuanya terdahulu. Dalam masyarakat masih sering kita jumpai orangtua yang memegang kuasa pernuh atas hak anak-anaknya.  Segala sesuatu diatur oleh orangtua sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk memilih dan menentukan sendiri apa yang menjadi keinginannya. Anak yang tumbuh di keluarga yang pragmatis akan cenderung memiliki sifat tertutup dan pemalu dalam bersosialisasi.

2. Keluarga Demokratis

Keluarga yang demokratis menempatkan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga dengan baik dan terbuka. Setiap anggota keluarga termasuk anak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya serta bermusyawarah dalam setiap permasalah yang dihadapi.  Anak yang dibesarkan dalam keluarga demokratis akan tampil percaya diri dan mudah bersosialisasi dalam masyarakat.

3. Keluarga Tanpa Peraturan

Keluarga yang tidak memiliki peraturan tidak akan melahirkan anak yang baik dan memiliki kepribadian.

Orang tua merupakan kunci dalam pembentukan kepribadian dan watak seorang anak. Pendidikan yang diterapkan dalam keluarga oleh orangtua terhadap anak-anaknya akan menjadi pola pikir anak ketika dewasa kelak, karena pada dasarnya sifat anak adalah meniru orangtuanya. Oleh karena itu sebelum anak hadir di tengah-tengah keluarga, sepasang suami istri harus sudah paham benar bagaimana tugasnya ketika menjadi orangtua, baik ayah maupun ibu. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi disfungsi peran dalam mendidik anak.

Anak dengan masalah sulit mencerna suatu pelajaran tidak akan meresahkan orang lain karena masalah tersebut akan dapat diselesaikan dengan belajar lebih giat. Tetapi anak yang bermasalah dalam hal moral, etika, bahkan berani melanggar norma akan sangat mengganggu banyak orang. Jika kita amati lebih dalam, anak-anak dengan masalah tersebut seringkali memiliki masalah dalam keluarganya. Dalam mendidik anak, orangtua harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya menjauhkan anak dari hal-hal negatif, menjauhkan anak dari sikap berlebihan, serta mendisiplinkan anak sedini mungkin, di antaranya:

Pertama, yang ditekankan dalam mendidik anak adalah dalam hal akhlak/tingkah laku sehari-hari. Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan perilaku yang dibiasakan oleh pengasuhnya, seperti sikap keras, pemarah, tergesa-gesa, kasar, rakus, dan suka membantah. Perilaku yang tertanam sejak kecil akan sulit dihilangkan dan akan menjadi tabiat yang melekat pada dirinya. Sehingga tidak heran jika dalam masyarakat banyak kita jumpai orang dewasa yang berprilaku menyimpang yang meresahkan masyarakat.

Sebagai orangtua kita harus membiasakan anak untuk berkata jujur, menjauhkan sifat malas, menanamkan sikap kasih sayang dengan saling membantu dan saling memberi, serta membuang jauh-jauh kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan.

Kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah menjauhkan anak dari sikap berlebihan seperti terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur, terlalu banyak bicara, dan terlalu banyak bermain. Kadang, orangtua mengira dengan memberi kebebasan ia mengira telah memuliakan anaknya. Padahal hal demikian akan menjadikan anak tidak mandiri.

Ketiga adalah mengenai kedisiplinan. Anak yang manja adalah akibat dari tidak adanya kedisiplinan dalam keluarga. Mengapa anak yang manja meresahkan orang lain? Karena ia akan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan dengan berbagai cara, termasuk cara yang salah.

Perilaku-perilaku kurang baik anak manja akan tampak ketika ia berkumpul dengan teman-temannya. Ia akan menampakkan sikap permusuhan kepada anak-anak lain jika ada sesuatu hal yang membuatnya tidak suka. Perilaku manja seorang anak biasanya disebabkan oleh kekhawatiran orangtua bahwa kekerasan akan mengakibatkan anak cengeng, atau disebabkan oleh ketidaktahuan orangtua akan perbedaan keras dengan tegas.

Loading...

Dalam mendisiplinkan sebuah peraturan diperlukan ketegasan, bahkan hukuman diperbolehkan jika dibutuhkan yang tentu saja dalam pemberiannya hatus disesuaikan dengan tingkat perkembangan otak anak. Hukuman yang diberikan kepada anak dengan tujuan mendisiplinkan tidak melulu dalam bentuk bentakan dan pukulan karena hukuman seperti itu akan menyakiti hati anak.

Hukuman bisa dalam bentuk penangguhan permintaan atau dengan mengurangi jatah uang harian jika anak sudah mulai mendapatkan uang harian. Karena ketaatan yang lahir dari kekerasaan tidak akan berlangsung lama, selain itu hukuman yang berlebihan akan merusak hubungan anatara orangtua dan anak, yang pada akhirnya ketika bergaul di masyarakat anak akan menjadi pemalu, penakut, bahkan menjadi keras dan acuh. Ketiga hal tersebut, jika orangtua mampu melaksanakannya dengan baik in syaa Allah akan mampu melahirkan anak-anak berkualitas yang menyejukkan mata orangtua juga masyarakat serta yang akan mendoakan dan membawa orangtua ke Surga Allah ‘Azza wa Jalla. []

 

Sumber: umminonline

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline