Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Lima Alasan Wanita Lebih Rentan Terkena Depresi

0

Ukhti, sangat wajar apabila seseorang mengalami perubahan mood secara spontan saat ia dihadapkan dengan hal sulit tertentu yang dapat mengganggu perasaanya. Baik perasaan sedih, gembira, marah, dan sebagainya. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yang terindikasi mengalami depresi, biasanya perubahan suasana hatinya akan lebih cepat terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan orang yang tidak mengalami depresi.

Depresi merupakan gangguan psikologi yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pola pikir, perasaan, suasana hati dan juga cara menghadapi sesuatu saat beraktivitas sehari-hari. Ketika mengalami depresi, seseorang akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.

Menurut catatan dari WHO, setidaknya ada 350 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi, dan lebih dari 800 ribu orang meninggal dunia dengan bunuh diri akibat depresi yang dialaminya. Masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Depresi sendiri lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.

Apa saja yang sebenarnya membuat wanita lebih mudah terkena depresi?

1. Faktor Genetik
Seseorang yang memiliki riwayat depresi pada keluarga meningkatkan peluang lebih besar terjadinya depresi baik pada pria maupun wanita. Namun, studi menunjukkan bahwa tekanan hidup yang dialami oleh seseorang cenderung membuat wanita lebih rentan untuk mengalami stres yang berujung pada depresi dibandingkan dengan pria. Mutasi genetik tertentu yang berterkaitan dengan perkembangan depresi berat hanya terjadi pada wanita.

2. Faktor eksternal
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan lebih rentan terkena depresi disebabkan adanya tekanan pekerjaan, pekerjaan rumah, atau tugas sekolah. Bisa jadi hal ini disebabkan karena perempuan memproduksi hormon stress yang lebih banyak dibandingkan laki-laki.

3. Premenstrual Syndrome
Selama masa menstruasi biasanya hormon akan mengalami naik-turun. Oleh sebab itu, menstruasi juga dapat menjadi penyebab umum terjadinya depresi pada perempuan.

Anda mungkin juga pernah mengalami sendiri bukan? bagaimana perubahan emosi dan mood pada saat menstruasi kadang sangat mengganggu bukan hanya bagi diri sendiri, tetap juga bagi orang lain. Bagi sebagian perempuan yang mengalami gejala setress berlebihan pada saat menstruasi ini dapat didiagnosis mengidap premenstrual dysphoric disorder (PDD).

4. Masa kehamilan dan Melahirkan
Selama masa kehamilan hingga melahirkan bukanlah hal yang mudah, karena selama proses tersebut akan terjadi perubahan hormon yang dapat memicu terjadinya perubahan mood atau depresi pada wanita.

Wanita hamil biasanya mengalami trimester pertama yang sulit, menghadapi morning sickness alias mual dan muntah, penambahan berat badan, dan mood swings atau perubahan emosi yang tak terduga. Bahkan ada juga yang full semasa kehamilan merasakan mual dan lemas selama sembilan bulan. Hal ini tentu saja dapat menjadi pemicu depresi.

Perubahan hormon dan genetik saat proses perkembangan janin juga dapat membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi. Apalagi setelah melahirkan, wanita juga akan sangat rentan mengalami baby blues, yaitu kondisi khawatir, tidak bahagia, mood swings, dan kelelahan setelah proses melahirkan.

Yang lebih parah, ibu yang baru melahirkan juga berisiko mengidap postpartum depression alias depresi pascamelahirkan. Depresi ini ditandai dengan perasaan sedih, gelisah, dan lelah yang ekstrem, sehingga dapat menyulitkan wanita untuk menjalani peran baru sebagai seorang ibu, terutama dalam merawat bayinya. Itu sebabnya, suami dan orang-orang sekitar harus mensupport para ibu muda yang baru saja melahirkan agar mereka tidak mengalami depresi semacam ini.

5. Memiliki trauma khusus
Sebenarnya trauma ini dapat dialami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Namun karena wanita memang lebih banyak mengeluarkan hormon stress, alhasil wanita yang memiliki trauma khusus menjadi lebih mudah mengalami depresi dibandingkan dengan wanita. []

Sumber: Ummi Online



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline