Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ini Akibatnya Jika Rumah Diibaratkan Seperti Terminal

0

Apasih fungsi rumah menurut Anda? Ya benar, tempat kembalinya pulang dan beristirahat setelah lelah dan padatnya aktivitas.

Bertemu keluarga di rumah pun salah satunya adalah obat untuk mencairkan pikirkan dan menghilangkan stres. Bermain bersama anak atapun bermanja-manja dengan sang istri.

Makhluk hidup selalu merindukan rumah, burung mempunyai sarang yang dianyam dengan rasa cinta dan kasih; ikan mempunyai rumpun-rumpun karang laut tempat bermesraan yang aman; semut menggali lubang di tanah tempat menyelenggarakan kehidupan sosial mereka.

Begitu pula manusia selalu merindukan rumah, tempat saling memberi makna dan arti, tempat menyemai kasih sayang dan kehidupan yang baru, tempat sabar dan syukur bertemu.

Sayang, manusia sering kali menjadi terlalu cerdas menciptakan rumah-rumah model baru yang rapuh, kecerdasan yang hanya dipimpin oleh nafsu, kepintaran yang menipu. Mereka membuat rumah rapuh, bahkan lebih rapuh dari anyaman laba-laba. Mereka senang menghabiskan hari-harinya di kamar hotel, menghabiskan malam-malamnya di lantai-lantai diskotek, menghabiskan energi hidupnya di ruang kerja, tempat seminar, ruang lobi. Tiba di rumah tinggal ampas, rasa capek yang mudah dituangkan dalam kemarahan.

Seorang ayah seringkali menjadikan rumah sebagai tempat melepaskan lelah setelah seharian bekerja. “Ma, tolong anak-anak suruh diam. Papa capek bekerja seharian, ingin tidur,” kata seorang ayah. Kita pun sering mendengar perkataan. “Salah Mama kalau anak-anak jadi nakal. Papa bekerja seharian di kantor, tidak mempunyai waktu untuk tinggal di rumah, mengajari mereka, menanyakan apakah mereka sudah mengerjakan PR. Sesampai di rumah, Papa capek ingin istirahat. Jangan bebani Papa dengan masalah rumah.”

Rumah sering kali hanya menjadi terminal, stasiun, atau bandara. Kita berhenti sejenak untuk kemudian meneruskan perjalanan. Setelah capek duduk berjam-jam di bus dan kereta, atau setelah jenuh duduk di kursi pesawat. Kita butuh tempat untuk istirahat guna memulihkan kondisi. Setelah tenaga kita pulih dan pikiran kita jadi segar kita akan pergi kembali.

Kalau kita berbicara hanya sekadar basa-basi, tidak akan membuat kita menjadi bagian yang sejati dari terminal, stasiun atau bandara. Duduk memesan minuman dan makanan, dilayani dengan senyum menawan dari para pelayan. Lalu kita pergi lagi. Mungkin esok akan kembali dan melakukan perbuatan yang hampir sama.

Seorang ayah setelah capek bekerja, pulang ke rumah guna menghilangkan capek; masuk ke ruang makan, mengharapkan istri duduk di seberang dengan senyum indah. Anak-anak tertawa lucu. Kalaupun berbicara, hanya sekadar pemanis bibir saja. Jika ada anak yang bermasalah di lingkungan sekitarnya atau di sekolah, sang ayah akan berkata, “Tolong Mama selesaikan, Papa besok kerja,” atau bahkan berkata, “Mama tidak bisa mendidik anak!” Setelah itu, sang ayah membenamkan diri di kamar, menghilangkan lelah di antara bantal dan guling.

Di tempat kerja seorang ayah bisa sangat perhatian terhadap anak buahnya tetapi di rumah menjadi sosok yang lain. Ia bisa berkata santun terhadap pelanggan wanita tetapi tidak bisa santun dan lembut terhadap istrinya.

Jangan jadikan lelah dan capek sebagai alasan untuk Anda bersikap acuh terhadap keluarga di rumah. Jadikan rumah sebagai tempat kembalinya Anda pulang yang dimana rumah tersebut berada diposisi paling ternyaman dan dirindukan. Ciptakan momen-momen hangat bersama keluarga, walau hanya sebentar, namun jika dilakukan rutin lambat-laun akan membangun keharmonisan dalam keluarga. []

Sumber: Ummionline

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline