Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Suami Hobi Poligami, Siap-siap dengan Hal Ini

0

Poligami memang bukanlah hal yang membahagiakan bagi seorang wanita, tetapi jika wanita ikhlas dan rela maka akan berujung pada pahala yang sangat besar bahkan diganjar surga.

Namun, itu hanyalah segelintir wanita yang mau untuk dimadu atau di duakan cintanya. Poligami menurut Rasulullah haruslah di lakukan sebelum bertindak atau memutuskan untuk berpoligami.

Rasulullah berpoligami hanya kepada janda-janda saja, bukan kepada orang yang lebih muda atau lebih cantik dari istrinya. Niat Rasulullah hanya untuk membantu sang janda agar mereka tetap berkecukupan hidupnya dan tidak kekurangan. Serta mencegah adanya perzinahan yang dilakukan kaum yahudi kepada janda-janda yang berada di Makkah. Hanya satu istri Rasulullah yang masih muda, yakni siti aisah. Hal ini pun karena perintah Allah, dengan maksud agar terdapat orang yang mengetahui kebiasaaan Rasulullah ketika berada di rumah atau ketika melakukan apapun.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata;

السُّنَّةُ إِذَا تَزَوَّجَ الْبِكْرَ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا، وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلاَثًا.

“Yang (diajarkan dalam) sunnah, apabila seorang lelaki menikahi gadis sedangkan ia sudah memiliki istri, ia tinggal bersamanya selama tujuh hari/ malam. Apabila ia menikahi janda sedangkan ia punya istri yang lain, ia tinggal di sisi istri barunya yang janda tersebut selama tiga hari,” (HR. al- Bukhari no. 5213 dan Muslim no. 3611).

“Setelah itu, dia membagi giliran (di antara istri-istrinya),” (HR. al-Bukhari no. 5214).

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau tinggal di sisinya selama tiga hari. Ketika beliau hendak meninggalkannya menuju istri beliau yang lain, Ummu Salamah memegang pakaian beliau, maka Rasulullah memberikan pilihan;

إِنْ شِئْتِ سَبَّعْتُ لَكِ، وَإِنْ سَبَّعْتُ لَكِ سَبَّعْتُ لِنِسَائِي

“Apabila engkau mau, aku akan menggenapkan tujuh hari bersamamu. Namun, kalau aku memberikan waktu tujuh hari denganmu, berarti aku juga harus memberikan tujuh hari untuk istri-istriku yang lain,” (HR. Muslim no. 3606).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan, hadits ini menunjukkan bahwa istri yang baru dinikahi diutamakan daripada yang lainnya (istri lama). Apabila ia gadis, haknya adalah tujuh hari tujuh malam tanpa qadha. Apabila janda, ia diberi pilihan. Apabila ia menginginkan tujuh hari, berarti tujuh hari ini akan diqadha untuk istri-istri yang lain.

Namun, apabila ia mau, tiga hari tidak akan ada qadha. Ini adalah mazhab al-Imam asy- Syafi’i dan pendapat al-Imam Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Jarir, dan jumhur ulama. Abu Hanifah, al-Hakam, dan Hammad mengatakan, “Wajib qadha untuk seluruhnya pada janda dan gadis, berdalil dengan zahir nash yang menyuruh berlaku adil di antara para istri. Semoga bermanfaat dan berpikirlah sebelum bertindak. []

Sumber: Ihram



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas