Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Adab-adab Pengantin di Malam Pertama

0

“Apa yang disunnahkan bagi suami jika hendak mendatangi istrinya ?”

Agar malam pertama benilai ibadah dan menjadi ladang pahala. Maka hendaknya setiap mempelai memperhatikan adab-adabnya. Kalau kita kaji ada beberapa adab yang seharusnya dilazimi kedua mempelai sebelum melaksanakan hubungan intim suami istri.

Diantara adab-adab tersebut adalah:

1. Disunnahkan bagi suami untuk bersikap lemah lembut terhadap istri, di malam Zafaf, misalnya dengan meminta segelas susu atau yang sejenisnya, setelah duduk disamping istrinya, suami meminum separuhnya dan separuhnya diberikan kepada istrinya.Sikap yang lembut itu akan membuat seorang istri merasa sayang kepada suaminya.

Asma’ binti Yazid bin Sakan di hari pernikahan Rasulullah dengan Aisyah menceritakan; “ Aku menghias Aisyah untuk Rasulullah. Lalu aku datang kepadanya. Kemudian aku memanggil beliau supaya memandang Aisyah secara jelas. Kemudian beliau datang disampingnya. Setelah itu di datangkan wadah besar yang berisi susu. Baliau pun meminumnya. Lalu nabi memberikannya pada Aisyah. Pada saat itu Aisyah menundukkan kepalanya dan merasa malu. Maka saya menegurnya dan berkata kepadanya. “Ambillah dari tangan Rasulullah !” Akhirnya Aisyah pun mengambilnya dan meminumnya sedikit. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, ‘Berilah temanmu itu.’ (HR,Al Humaidi 1/179 no. 367, Ahmad VI/438,452,453,458 , dengan dua sanad yang saling menguatkan) Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H.

2. Setelah itu disunnahkan bagi suami meletakkan tangan kanannya di atas ubun-ubun (nashiyah) istrinya seraya menyebut nama Allah, dan mendo’akan dengan keberkahan :

بِسْمِ اللهِ،
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Dengan menyebut nama Alloh… Ya Alloh sungguh aku mohon padamu kebaikannya, dan kebaikan tabiatnya. Dan aku memohon perlindungan-Mu dari keburukannya dan keburukan tabiatnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Jika kalian telah menikahi wanita atau membeli budak, maka peganglah bagian depan kepalanya, ucapkanlah basmalah, berdoalah untuk keberkahannya, dan hendaklah ia mengucapkan… (yakni doa di atas)”. (HR. Abu Dawud VI /196 no. 2146, Ibnu Majah I/617 no.1918 dan yang lainnya, sanadnya hasan)

3. Sholat sunnah 2 rakaat bersama istrinya.

4. Setelah itu berdo’alah kepada Allah dengan mengucapkan :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”

Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).

Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid. Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua…!’” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H.]

Hadits dari Abu Waail Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):

Loading...

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461)]

5. Menjalin kedekatan dengan sikap lemah lembut, serta pembicaraan yang halus dari hati-kehatian, untuk saling memahami satu-sama lain, mengerti dan memahami kekurangan satu sama lain. Dan masing-masing berusaha melaksanakan hal-hal yang disukai satu sama lain ,dan meninggalkan hal-hal yang tidak disukai satu sama lain.

6. Menjalin kedekatan yang lebih dalam lagi dan jangan lupa berdo’a sebelum jima’:

بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.”
[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.]

7. Sayangilah istri anda ajaklah berbicara dari hati-kehati dalam suasana yang lebih tenang, dengarkan apa yang ingin ia sampaikan perasaannya, kebahagiaannya, harapan-harapannya, dan mungkin juga sedikit kekhawatirannya sekaligus keinginannya untuk mendapatkan suami yang memberi perhatian, perlindungan, rasa aman, ketentraman, ikatan batin dan penerimaan. Sesudah tenang anda bisa bersuci dari hadats.

8. Disunnahkan jika dalam keadaan junub (hadats besar) ketika akan makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu’ terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya.

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ

“Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk shalat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659).]

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

“Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu’) untuk shalat.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660).]
Demikianlah penjelasan singkat mengenai adab-adab “Malam Zafaf”, mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saudara-saudaraku sekalian, yang ingin membangun mahligai rumah tangga di atas sunnah nabawiyah al-muthohharoh.

Insya Allah adab-adab tersebut akan mengantarkan anda menggapai indahnya malam pertama.Semoga bermanfaat. Selamat bermalam pertama! Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh : Abu Syamil Humaidy ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas