Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Pakai Alat Kontrasepsi, Bolehkah?

0

Pertanyaan : Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Ustadz saya mau bertanya bagaimana hukum memakai alat kontrasepsi dalam islam? Syukron

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Risma di Tasikmalaya)

Jawaban :

Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh

Para ulama membolehkan penggunaan obat pencegah kehamilan atau alat kontrasepsi JIKA ada sebab yang dibenarkan dalam syariat.

Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang sebab-sebab yang diperbolehkan, kita lihat dulu tujuan dan dalil-dalil yang melatarbelakangi hukum asalnya.

Allah ta’ala berfirman tentang keluarga dan keturunan:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

“Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (QS. An-Nahl: 72)

Allah ta’ala juga berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Dari 2 ayat diatas kita bisa tau bahwa hukum asal membatasi atau menghentikan kelahiran adalah haram, karena tidaklah Allah menganugrahkan anak melainkan itu adalah rezeki yang baik. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalaam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasai rahimahumallah, melarang sahabat Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu ketika akan menikahi wanita cantik yang berasal dari keturunan terhormat, namun tidak bisa memiliki anak mandul).

Hadits ini menunjukkan anjuran untuk memperbanyak keturunan, dan ini termasuk tujuan utama dari pernikahan. (Khataru Tahdiidin Nasl 8/16 Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Loading...

Adapun secara tujuan biasanya terbagi menjadi 3;

Pertama, Membatasi keturunan: yaitu menghentikan kelahiran secara permanen setelah memiliki keturunan dengan jumlah tertentu. Tujuannya memang untuk membatasi jumlah keturunan.

Membatasi keturunan yang tujuannya seperti ini diharamkan secara mutlak dalam agama Islam, sebagaimana keterangan Lajnah daaimah yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Fatawal Lajnatid Daaimah, (9/62) no (1584)), dan Keputusan majelis al Majma’ al Fiqhil Islami (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (30/286)). Karena ini bertolak belakang dengan tujuan mulia syariat Islam, yaitu memperbanyak keturunan.

Kedua, Mencegah kehamilan: yaitu menggunakan cara-cara yang diharapkan bisa menghalangi seorang dari kehamilan, seperti: ‘Azl (menumpahkan sperma laki-laki di luar vagina), mengonsumsi obat-obatan yang dapat pencegah kehamilan, memasang penghalang dalam vagina (Spiral), menghindari hubungan suami istri ketika masa subur, dan yang semisalnya (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114 – Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah)).

Pencegahan kehamilan seperti ini juga diharamkan dalam Islam, kecuali jika ada sebab yang dibolehkan dalam syariat.

Syaikh Shaleh al-Fauzan berkata: “Aku tidak menyangka ada seorang ulama ahli fikih pun yang menghalalkan untuk mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, kecuali jika ada sebab yang dibolehkan dalam syariat, seperti wanita yang tidak mampu menanggung kehamilan karena menderita penyakit, yang jika dia hamil justru akan membahayakan kelangsungan hidupnya.

Ini semua dikecualikan dalam rangka untuk menghindari mudharat (bahaya) dan menjaga kelangsungan hidup bagi wanita tersebut, karena sesungguhnya syariat Islam datang untuk mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) dan mencegah kerusakan.

Maka dalam kondisi seperti ini boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, karena darurat.

Adapun mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan tanpa ada sebab yang dibolehkan dalam syariat, maka ini haram, karena kehamilan dan keturunan termasuk tujuan mulia syariat Islam, yaitu untuk memperbanyak jumlah kaum muslimin. Dan tidak ada seorang pun dari ulama ahli fikih yang diperhitungkan membolehkan hal ini.

Adapun para ahli kedokteran mungkin saja mereka membolehkannya, karena mereka tidak mengetahui hukum-hukum syariat Islam (al-Muntaqa min fatawa al-Fauzan (89/25), dengan sedikit penyesuaian).

Ketiga, Mengatur kehamilan: yaitu menggunakan sarana atau cara untuk mencegah kehamilan, tapi bukan dengan tujuan mematikan fungsi alat reproduksi atau membuat mandul, melainkan tujuannya mengatur kehamilan dalam jangka waktu tertentu (tidak selamanya).

Itu semua karena adanya maslahat yang dipandang oleh pasangan suami istri atau dokter yang mereka percaya (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114) Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah).

Mengatur kehamilan seperti ini boleh dilakukan dengan dua catatan:

1). Adanya kebutuhan yang dibolehkan dalam syariat, seperti istri sakit sehingga tidak mampu menanggung kehamilan setiap tahun, atau kondisi tubuh istri yang lemah, atau penyakit-penyakit lain yang bisa timbul dan membahayakannya jika hamil setiap tahun.

2). Izin dan keinginan dari suami untuk mengatur kehamilan, karena suamilah yang  mempunyai hak untuk mendapatkan dan memperbanyak keturunan (Al Fataawal Muhimmah (1/159-160) no. (2764)).

Syaikh Shaleh al-Fauzan mengatakan: “bolehnya mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, atau lebih tepatnya penunda kehamilan, untuk jangka waktu tertentu karena adanya suatu sebab yang dibolehkan dalam syariat, seperti jika kondisi istri sakit, atau kelahiran yang berturut-turut akan membuat istri tidak mampu memberi ASI yang cukup untuk bayinya, maka boleh baginya mengonsumsi obat penunda kehamilan.

Dengan tujuan agar bisa fokus dan mempersiapkan diri menyambut kehamilan yang baru setelah selesai dari hamil yang pertama. (Al-Muntaqa Min Fatawa al-Fauzan (89/24-25) dengan sedikit penyesuaian).

Fatwa Lajnah Daimah juga menukil: “Mengatur keturunan yaitu menunda kehamilan karena alasan yang dibolehkan dalam syariat, seperti kondisi istri yang lemah sehingga tidak mampu menanggung kehamilan, atau kebutuhan untuk menyusui bayi yang sudah lahir, maka hal ini diperbolehkan. (Fatawal Lajnatid Daaimah (19/428) no (16013)).

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi lemah, payah dan sakit pada wanita hamil yang dimaksud di sini adalah lemah/sakit yang melebihi dari apa yang biasa dialami oleh wanita-wanita hamil pada umumnya. Karena semua wanita yang hamil dan melahirkan mesti mengalami sakit dan payah, Allah berfirman:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً

“Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (QS. Al-Ahqaaf: 15).

Terkait memakai alat kontrasepsi, jika kita melihat penjelasan diatas maka hukumnya boleh/halal JIKA sesuai dengan sebab-sebab yang diperbolehkan dalam syariat. Namun dalam prakteknya ada adab-adab yang perlu dijaga, seperti;

1) Pilihlah alat kontrasepsi yang pemasangannya tidak mengharuskan terbukanya aurat utama (kemaluan dan dubur) di hadapan orang lain. Karena aurat utama wanita secara hukum asal hanya boleh dilihat oleh suaminya, adapun selain suami hanya diperbolehkan jika kondisi sangat darurat atau terpaksa untuk keperluan pengobatan.

2) Pilihlah alat kontrasepsi yang mudah dan tidak membahayakan kesehatan, atau yang paling ringan efek sampingnya terhadap diri sendiri, karena salah satu dari kebiasaan baik Rasulullah shallalahu ‘alaihi wassalaam adalah jika diberi pilihan maka beliau selalu memilih yang paling mudah.

Wallahu A’lam

Wabillahit Taufiq

 

Dijawab oleh: Ustadz Rosyid Abu Rosyidah

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline