Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Pemuda Penghimpun Alquran yang Cerdas Zaid bin Tsabit

0

Zaid bin Tsabit masih sangat muda, ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, ia barulah berusia 10 atau 11 tahun. Meski masih muda, ia adalah seorang sahabat Nabi yang cerdas dan kuat ingatannya.

Saat Perang Badar ia ingin turut ke medan perang bersama ayahnya, namun Nabi Muhammad menyuruhnya pulang.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk mempelajari Bahasa Ibrani, bahasa Yahudi, dengan maksud agar Zaid dapat membacakan untuk Beliau surat-surat yang datang dari kaum Yahudi. Zaid mempelajarinya dan mampu menguasainya dalam tempo 19 hari.

Pasca wafatnya Rasulullah, kaum muslimin langsung disibukkan dengan urusan perang menumpas orang-orang murtad. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur. Hal ini membuat Umar bin Al-Khathab cemas dan langsung mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Qur’an sebelum para penghafal lainnya gugur.

Setelah shalat istikharah dan meminta pendapat dari sahabat lain, Abu Bakar kemudian memanggil Zaid ibnu Tsabit dan mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu (kejujuran). Setelah itu, Abu Bakar menyuruh Zaid untuk menghimpun Al-Qur’an. Saat menerima amanat besar ini, Zaid mengatakan, “Demi Allah, seandainya mereka menugaskanku untuk memindahkan gunung Uhud dari posisinya, maka tugas itu masih lebih ringan bagiku disbanding tugas yang mereka pikulkan ke pundakku untuk mengumpulkan Al-Qur’an.” Akan tetapi, berkat petunjuk dan ‘inayah dari Allah, Zaid berhasil merealisasikan misi suci tersebut dan mampu menjalankannya dengan baik.

Ia adalah sosok sahabat yang menjadi pemuka ulama di Madinah dalam bidang fiqih, fatwa, dan ilmu faraidh (waris).

Umar bin Al-Khathab sering menugaskan Zaid untuk menjadi penggantinya bila ia melakukan kunjungan ke luar kota Madinah.

Ibnu Abbas -meski kedudukannya tinggi dan wawasannya luas- seringkali mengunjungi rumah Zaid untuk menimba ilmu dan memintai pendapatnya. Ibnu Abbas pernah berkata, “Ilmu itu dicari dan tidak datang begitu saja.”

Suatu hari, Ibnu Abbas menuntun kendaraan yang ditumpangi Zaid, tapi Zaid mencegahnya. Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kami disuruh bersikap terhadap para ulama kami.” Zaid lalu turun dari kendaraannya dan langsung mencium tangan Ibnu Abbas sambil berkata, “Beginilah kami disuruh berikap terhadap keluarga Nabi kami (ahl al-bait).

Di antara hadits yang diriwayatkannya dari Nabi ia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah, kemudian kami pergi untuk menunaikan shalat subuh.” Salah seorang bertanya, “Berapa jarak waktu antara keduanya?” Zaid menjawab, “Sekitar (bacaan) lima puluh ayat.” (HR. Al-bukhari dan Muslim)

Sumber : Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, Pustaka Al-Kautsar.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline