Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Aku Dan Kedokteran Gigi

0

Oleh: Anne Adzkia Indriani

Mengenang masa lalu, begitu lulus dan mendapat predikat dokter gigi, ada rasa lega. Lega karena akhirnya penderitaan ko-ass berakhir. Saya nggak pernah menyangka bisa lulus apalagi saat akhir-akhir ko-ass saya sedang hamil muda dan mengalami perdarahan karena kurang mengontrol aktivitas.

Tepat begitu lulus, saya bingung mau ngapain. Terngiang-ngiang kalimat dosen saya, “Saat kalian lulus nanti, kalian akan berhadapan dengan pasien langsung tanpa pengawasan dosen seperti di sini (klinik ko-ass). Apa yang terjadi di luar sana, akan jadi tanggung jawab kalian. Kesalahan yang kalian lakukan adalah konsekuensi yang harus ditanggung. Jadi, belajarlah untuk tidak membuat kesalahan.”

Saya ingat, dosen-dosen sadis dan perfeksionis yang menerima pekerjaan kami, sering nggak tanggung-tanggung meminta kami mengerjakan ulang requirements. Siapa yang nggak lega kalau bisa lulus (baca: lolos) dari rongrongan mereka (maaf, Dok ;p).

Kelegaan paska lulus berubah bingung kalau ingat kalimat tadi. Saya membayangkan masa-masa PTT di daerah yang akan dilakoni sendirian. Tanpa teman seangkatan yang membantu mengaduk alginat, tanpa dosen yang mengingatkan (meski galak dan ampun deh gak mau balik lg) kalau kerjaan saya salah.

Hari pertama bekerja sebagai dokter gigi, canggung bukan main. Takut kelihatan dokter barunya.

Pelan-pelan semua teratasi.

Waktu berlalu. Perjalanan praktik tidak selalu mulus. Ada yang komplain? Banyak. Ada yang nawar biaya konsul? Nggak sedikit. Yang berterima kasih sampai ngirimin makanan, juga banyak. Yang akhirnya satu keluarga jadi pasien, dan jadi keluarga baru saya juga banyak.

Nggak jarang saya menerima komplain pasien tentang dokter lain yang buat mereka bikin gak nyaman. Wajar, namanya juga nggak cocok. Saya berusaha meluruskan (meski kadang kepo, kenapa ya?). Bisa jadi saya juga dikomplain oleh pasien ke dokter lain. Pasti ada, saya yakin.

Saya jadi seorang perfeksionis (menurut saya, entah menurut pasien), jadi kerja saya lama. Dan sering kena komplain pasien di ruang tunggu. Well, that’s me. I can’t help it.
Sering nemu pasien aneh-aneh sikap dan gayanya. Ada yang bolak-balik nggak puas dengan kerjaan saya (ternyata dia lebih perfectionist euy). Ada yg menilai saya dokter gak punya duit soalnya gak bisa bayar perawat (emberrr). Ada yg ngatur-ngatur (dokternya lo apa gue? Hihi). Banyakannya sih dapet pasien baik, kooperatif, rela nunggu di ruang tunggu sampe jam 10 malem (padahal saya bete, udah pengen pulang).

Kalau dilihat, pekerjaan saya nggak terlalu berisiko ya? Apalagi nambal-nyabut-skeling doang, kata orang.

Saya nggak bisa bilang detil di sini sih, tapi saya sadar di setiap pekerjaan yang saya lakukan selalu ada risiko. Komplikasi berupa perdarahan, peradangan, infeksi, malformasi rahang dan gigi, gangguan pertumbuhan, bahkan kematian.

Buat saya sebagai operator juga ada konsekuensi medisnya. Penyebaran hepatitis, HIV, terpapar bahan2 karsinogenik, gangguan tulang belakang, bbrp tipe influensa, dll yang tak mungkin tidak berujung pada kematian.

Saya seringkali membawa pulang beban2 komplain pasien ke rumah. Lumayan bikin sakit kepala. Mulai komplen tindakan, obat, lama menunggu, sampai kehadiran saya (saat di kalimantan saya sering sakit, krn alergi). Kalau pasien telpon atau sms untuk janjian, lalu saya bilang sakit…banyak yang bilang, dokter kok sakit melulu. Ada juga yang bilang, dokter nggak profesional.
Duh, Bu, Pak, maaf ya. Sekarang alhamdulillah alergi saya sembuh total, atas doa kalian.

Saya sadar, risiko di depan saya selalu ada. Ini bukan pekerjaan mudah yang berhadapan dengan kertas. Tapi nyawa manusia. Saya tidak cerita kasus temen-temen saya di daerah yang harus berjuang naik speedboat setiap hari. Atau terancam malaria sepanjang tahun.

Saya rasa, teman-teman dokter juga sadar akan segala bahaya yang terjadi di depan mereka (terlepas ada bbrp yang mungkin kurang aware, entah apa alasannya). Kalau ditanya, saya kerja cari apa? Duit?
Emang nggak boleh? Suami saya juga kerja cari duit karena dia harus mencari nafkah. Tapi apakah duit jadi orientasi setiap orang dalam bekerja? Nggak dong. Saya rasa semua sama, dibalik uang akan ada usaha untuk memberikan service yang baik untuk klien. Akan ada penilaian apakah kita layak kerja atau nggak.

Loading...

Terakhir saya meninggalkan “arena perang”, juga meninggalkan beberapa hutang pekerjaan pada pasien yang masih saya ingat hingga sekarang. Bbrp yang masih bisa dihubungi, sempat saya kontak via mesia sosial. Semoga nggak ada masalah (maaf ya friend, saya melimpahkan tanggung jawab pada kalian).

Saya sering membayangkan, medan pekerjaan saya masih sangat mudah. Tidak seperti teman-teman di RS daerah yang sering mendapatkan kasus “cantik”, atau di pelosok yang buat hidup aja susah karena gak ada listrik, air dan transport (padahal kalau mau milih, mereka bisa tuh pilih kerja di kota besar). Salut buat Meli, Praptie, Nur Hanifah dan beberapa sahabat saya yg lain.

Dan kini, dua tahun saya meninggalkan medan jihad. Ada rasa rindu berhadapan dengan pasien-pasien yang tersenyum saat meninggalkan ruang praktik. Semoga mereka dalam kondisi baik.

Saat ini wajah dokter sedang dicoreng dengan tinta merah. Seakan semua yang kami lakukan penuh cela. Karena kesalahan beberapa orang membuat apa yang pernah kami lakukan sia-sia. Kami dihujat, dicaci, dihina bahkan jadi bahan tertawaan. Dengan kata-kata yang sama sekali nggak ada benarnya.

Demi Allah, saat kami berhadapan dengan pasien, tak sedikitpun masalah pribadi yang sedang kami alami, kami ikutsertakan dalam melakukan tindakan. Bahkan anak yang sedang sakit di rumah saja berusaha saya lupakan sejenak. Karena saya ingin memberikan yang terbaik yang saya bisa. Kalaupun ada uang yang masuk ke kantong kami, itu adalah hak dan jatah rezeki kami dari Allah. Bukan hasil korupsi, menyalahgunakan wewenang apalagi mencuri.

Jujur, saya sedih. Terluka. Teman-teman yang semula baik, ikut memojokkan. Meminta kami ikhlas.

Saya tidak tahu apa saya sudah ikhlas, karena hanya Allah yang tahu nilai keikhlasan itu. Saya tidak meminta kemuliaan dari pasien atau masyarakat. Juga tidak minta penghargaan.

Cukup hentikan ucapan kalian yang sangat menyakitkan itu.

Please, buat teman-teman yang tidak suka dengan catatan ini dan “gatal” ingin menghujat, jangan lakukan di kolom komentar. Karena saya lelah. Simpan saja komentar kalian di suatu tempat yang ketika orang membacanya tidak tersakiti.

Salam bakti saya untuk guru-guru Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Tanpa kalian, saya akan berbeda.

Teman-teman, beragam profesi yang saya cintai. Mari kita bergandengan tangan. Negeri ini membutuhkan kita agar menjadi lebih baik.

Mohon maaf kalau ada kata yang tidak berkenan. []

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline