Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Merasakan Nikmatnya Beribadah

0

Anda tentu pernah melihat seseorang yang melakukan program diet. Dia rela tidak makan selama berjam-jam. Untuk apa? Untuk mendapatkan bobot tubuh yang ideal, dan mendapatkan pujian dari orang-orang yang bertemu dan melihat dirinya.

Ketika ia harus menderita dengan program dietnya tersebut, dan mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga pujian yang dinantikan pun ia dapatkan, maka segala penderitaan akan berbuah kebahagiaan. Ia pun rela untuk melanjutkan lagi program dietnya yang sekarang ia tidak lagi rasakan penderitaan.

Begitu juga dengan seseorang yang berpuasa dengan meluruskan niat dan mengharapkan balasan hanya dari Allah ‘Azza wa jalla. Niscaya seluruh penderitaan lapar dan dahaga akan berubah menjadi kenikmatan.

Saudariku…

Kita bisa merasakan kenikmatan makanan dan minuman karena keadaan kita sebelum makan dan minum berbeda dengan keadaan setelah kita makan dan minum. Yang tadinya lapar dan haus, wajah pun pucat, maka setelah makan dan minum, perut menjadi kenyang dan wajah pun menjadi ceria. Ini adalah gambaran seseorang yang bisa menikmati kelezatan makanan.

Begitu pula seseorang yang bisa menikmati lezatnya ibadah.

Keadaan ia sebelum melaksanakan ibadah tersebut berbeda dengan keadaan setelah ia selesai dari melakukan ibadah tersebut. Seseorang yang keadaannya sebelum dan sesudah ia mengerjakan ibadah adalah sama saja, maka ia patut curiga dengan kualitas ibadah yang ia kerjakan. Semisal, sebelum shalat ia adalah anak yang durhaka, setelah durhaka ia masih tetap seorang anak yang durhaka. Lalu apa bedanya?

Padahal Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut : 45)

Oleh karena itu, marilah kita sama-sama mengoreksi ibadah yang telah kita kerjakan. Sudahkah kita merasakan kenikmatan dalam mengerjakannya, atau malah sebaliknya, penderitaan yang kita alami? Sudah luruskan niat kita? Sudah sesuai tuntunankah ibadah kita?

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan,

إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا، فَاتَّهِمُهُ، فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ.

“Jika engkau tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang engkau kerjakan maka engkau harus curiga (pent- dengan amalanmu tersebut), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.

يَعْنِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةِ انْشِرَاحٍ وَقُرَّةِ عَيْنٍ. فَحَيْثُ لَمْ يَجِدْ ذَلِكَ فَعَمَلُهُ مَدْخُولٌ.

Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya. (Madarijus Saalikin, hal. 68 juz 2). []

 

Loading...

Sumber: Bimbinganislam

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline