Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Fiqih Ramadhan

0

Puasa yang dalam bahasa Arab disebut sebagai As Shiyaam atau Ash Shaum merupakan ibadah pada Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari makan, minum serta pembatal puasa lainnya, mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Hukum dari puasa Ramadhan sendiri adalah wajib, sementara keutamaannya ialah ibadah yang tidak memiliki tandingan. Puasa turut menggabungkan tiga jenis kesabaran, yaitu sabar dalam menaati perintah Allah, sabar menjauhi larangan Allah serta sabar terhadap takdir dari Allah. Puasa juga akan memberi kemudahan di hari kiamat, mendapat pahala yang besar dan menjadi perisai yang melindungi dari api neraka. Berikut adalah beberapa fiqih Ramadhan yang perlu kita ketahui.

Rukun puasa ialah menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa serta menepati rentang waktu dalam berpuasa.
Rentang waktu puasa dimulai saat fajar shadiq atau fajar kedua terbit serta berakhir saat matahari terbenam.
Syarat sah puasa ialah Islam, berakal dan tidak gila, baligh atau dewasa, muqim atau tidak sedang melakukan perjalanan jauh, mampu berpuasa, suci dan niat.
Hal-hal yang membatalkan puasa antara lain ialah makan serta minum yang disengaja, keluar mani secara sengaja, muntah dengan sengaja, menjadi gila ataupun pingsan, keluar darah nifas atau haid, riddah atau murtad, merokok, berniat untuk berbuka, jima atau bersenggama di tengah hari puasa, hijamah atau bekam serta menggunakan inhaler yang dihirup melalui hidung.
Khusus untuk perihal jima, selain dapat membatalkan puasa juga wajib untuk mengqadha atau mengganti puasa. Wajib pula menunaikan kafarah dengan membebaskan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan pada 60 orang miskin.
Hijamah atau bekam sendiri masih diperdebatkan apakah dapat membatalkan puasa. Donor darah juga menjadi bagian dari bekam
Yang masih diperdebatkan pula ialah inhaler atau aroma yang dimasukkan ke dalam hidung dan biasa digunakan oleh seseorang yang sedang sakit pilek. Pendapat dari jumhur ulama adalah bahwa pemakaian inhaler bisa membatalkan puasa, sementara ulama dari Syafi’iyyah serta Malikiyyah berpendapat tidak membatalkan puasa.

Niat puasa sebenarnya tidak perlu diucapkan karena bisa dari hati saja. Selama berpuasa juga disarankan untuk memperbanyak amalan ibadah, seperti membaca Al Qur’an, menunaikan shalat lima waktu dan shalat sunnah, bersedekah, dan lain sebagainya. Saat menjalankan puasa Ramadhan, pahala yang didapat akan dilipatgandakan sehingga bulan Ramadhan disebut sebagai bulan penuh rahmat. Apalagi karena bulan Ramadhan hanya ada sekali dalam setahun, maka sudah seharusnya umat Muslim memanfaatkannya sebaik mungkin dengan beribadah sebanyak-banyaknya agar mendapat pahala serta mencari rido Allah Ta’ala. Demikian adalah uraian terkait fiqih Ramadhan, semoga ulasan di atas dapat membantu.



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas