Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Apa Semua Sakit Menggugurkan Dosa?

0

Semua orang yang bernyawa tak lepas dari pemasalahan kesehatan. Ya, sakit akan menimpa siapa saja. Namun sebagai seorang muslim, menjadi sebuah kenikmatan manakala kita tak mengeluh dan bersabar bahwa sakit itu menjadi ladang pahala jika sabar dan ridho dan menggugurkan dosa-dosa kita terdahulu.

Lalu sakit seperti apa yang bisa menggugurkan dosa seorang hamba? Apakah hanya sakit panas dan demam saja? Ternyata, sepengetahuan kami bahwa bukan hanya sakit panas saja tapi mencakup sakit-sakit lainnya yang seseorang menderita karenanya. Diantara dalilnya adalah:

Riwayat Abdullah bin Mas’ud

عَنْ عَبْدِاللهِ. قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يُوْعَكُ. فَمَسَسْتُهُ بِيَدِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّكَ لَتُوْعَكُ وَعْكًا شَدِيْدًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَجَلْ. إِنِّي أُوْعَكُ كَمَا يُوْعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ. قَالَ فَقُلْتُ: ذَلِكَ، أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَجَلْ. ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذَى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ، إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku masuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ketika beliau sedang menderita penyakit demam lalu aku mengusap beliau dengan tanganku dan berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar terjangkit demam yang sangat parah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Ya, sesungguhnya aku juga mengidap demam seperti yang dialami oleh dua orang di antara kalian. Aku berkata: Itu, karena engkau memperoleh dua pahala. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Benar. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit dan lainnya kecuali Allah akan menghapus dengan penyakit tersebut kesalahan-kesalahannya seperti sebatang pohon yang merontokkan daunnya. HR. Muslim no.2571 dan yang lainnya

Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ. قَالَ: لمَاَّ نَزَلَتْ: مَنْ يَعْمَلْ سُوْءًا يُجْزَ بِهِ بَلَغَتْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ مَبْلَغًا شَدِيْدًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْا. فَفِي كُلِّ مَا يُصَابُ بِهِ الْمُسْلِمُ كَفَّارَةٌ. حَتىَّ النَّكْبَةِ يُنْكِبُهَا، أَوِ الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

“Ketika turun ayat: Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu, kaum muslimin merasa sangat sedih sekali, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Janganlah kamu sekalian terlalu bersedih dan tetaplah berbuat kebaikan karena dalam setiap musibah yang menimpa seorang muslim terdapat penghapusan dosa bahkan ketika batu yang menyakiti kala diinjak (bencana kecil) yang menimpanya atau karena sebuah duri yang menusuknya.” HR. Muslim no.2574 dan yang lainnya

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan:

Dan pada hadits-hadits semacam ini ada berita gembira untuk setiap mukmin mengingat manusia biasanya tidak terlepas dari rasa sakit dikarenakan suatu penyakit atau gundah gulana atau yang semisalnya dari yang telah disebutkan. Penyakit-penyakit jasmani atau penyakit hati akan menghapus dosa-dosa orang yang terkena itu.

Akan ada pembahasan di bab yang akan datang hadits Ibnu Mas’ud:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu bahaya yang menyakiti kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya.

Dhohir hadits ini adalah mencakup seluruh dosa namun mayoritas Ulama’ mengkhususkan hadits itu hanya pada dosa kecil saja berdasarkan hadits yang telah berlalu pemberitahuannya di awal-awal bab shalat:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, dan Jum’at satu ke Jum’at lainnya, dan ramadhan satu ke Ramadhan lainnya adalah penebus dosa antara kesemuanya itu selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.

Jumhur Ulama’ mengarahkan hadits-hadits penebusan dosa yang bersifat mutlak ke hadits yang dibatasi ini. Fath al-Bari 10/108

Pendapat yang tepat dari beberapa pendapat Ulama’ adalah, musibah bisa menjadi hukuman bagi seorang hamba yang melakukan dosa, dan musibah itu sebagai penebus dosanya, ini bila dia tidak menolak takdir dan tidak membenci Allah karena musibah itu. Bila dia bersabar dan mengharap pahala maka ia juga memperoleh pahala atas kesabarannya.

Ibnu Taimiyyah menerangkan:

Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa musibah adalah pelebur dosa banyak, apabila dia bersabar maka ia mendapat pahala atas kesabarannya. Pahala dan balasan itu hanya diberikan sebagai balasan atas perbuatan -kesabaran- adapun musibah itu sendiri maka itu adalah dari perbuatan Allah dan bukan termasuk perbuatan hamba, musibah itu termasuk balasan Allah terhadap hambanya atas dosanya dan peleburan dosanya dengan musibah itu. Di musnad imam Ahmad disebutkan bahwa beberapa orang menemui Abu Ubaidah bin al-Jarrah ketika sakit, mereka mengatakan bahwa ia diberi pahala atas sakitnya, Abu Ubaidah menjawab: Aku tidak mendapatkan pahala dan tidak seperti ini namun musibah adalah pengguguran (dosa.pent),

Abu Ubaidah radhiyallahu anhu menjelaskan bahwa musibah itu sendiri tidaklah memberi faedah pahala untuk orang yang terkena musibah namun itu untuk meleburkan dosanya. Sering difahami bahwa pahala adalah pengampunan dosa maka ketika itu hal tersebut adalah pahala (dengan anggapan seperti ini) Majmu’ al-Fatawa 30/363. []

 

Sumber: Salamdakwah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Maaf Ukhti Antum Offline