Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Paradoks Di Ujung Ramadhan

0

Oleh: Ratna Nera

Kewajiban tahunan kaum Muslimin di seluruh dunia hampir memasuki garis finish. Ya, Ramadhan dengan segala keutamaannya akan segera berakhir. Namun faktanya, ujung Ramadhan selalu menjadi paradoks dan ceritanya terulang. Sebagian yang lain sibuk menyerbu pusat perbelanjaan, dan sebagian lagi ramai-ramai berburu Lailatul Qadar.

Dipenghujung Ramadhan, katanya malaikat-malaikat menangis. Mereka bersedih ketika Ramadhan dengan segala keutamaannya segera berakhir. Tetapi di saat bersamaan tidak sedikit orang yang menihilkan penghujung tersebut.

Seperti status sebuah akun facebook seorang teman.“Sepuluh hari terakhir, sudah bukan lagi keikhlasan Ramadhan, yang dicari adalah uang, modal untuk lebaran, pakaian baru, dan makanan. 80% responden pun mengakui.”

Bisa dibilang itu juga klimaks, peralihan mindset dengan menyibukkan diri pada konsumerisme. Sekedar menghiasi raga dan menjadi momen yang penuh dengan ‘kemubaziran’, mungkin juga sebagian dari mereka sampai melalaikan tarawih, bahkan tidak puasa.

Ada orang yang bilang pembagian malam di bulan ramadhan menjadi tiga babak—layaknya sebuah pertandingan— sepuluh malam pertama adalah babak penyisihan, sepuluh malam kedua adalah babak perempat final dan sepuluh malam terakhir adalah babak final, sepuluh malam terakhir inilah seharusnya menjadi kemenangan bagi mereka yang telah berhasil melewati babak penyisihan dan babak perempat final.

Dari situ, dari sudut lain pula sesungguhnya kita masih punya potret orang-orang istiqamah di penghujung Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk ‘mengeruk’ sebanyak-banyaknya keuntungan pahala, menjadi kesempatan pula menjauhkan lambungnya dari tempat tidur dan manjauhkan diri dari kelalaian. Sebuah musim ketaatan yang harusnya dimanfaatkan.

Hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan dari Jabir r.a.:

“Jika malam Ramadhan berakhir, seluruh makhluk-makhluk di segenap langit, dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana yang menimpa umat Muhammad saw. Para sahabat bertanya, bencana apakah ya Rasul? Jawab Nabi. Kepergian bulan Ramadhan. Sebab di dalam bulan Ramadhan segala doa terkabulkan. Semua sedekah diterima. Dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara di hapus.”

Begitulah Ramadhan, kedatangannya terlalu singkat, di sinilah kita kemudian menilai diri sudah sampai manakah tingkat keimanan kita? Apakah kita bersedih ketika Ramadhan usai, atau malah merasa bebas dan senang karena 11 bulan berikutnya bisa kembali ke kebiasaan lama? Senang karena ‘penyiksaan’ lapar dan haus tak harus lagi dilakoni. Senang karena kita bisa kembali melakukan banyak hal yang dilarang selama Ramadhan. Senang karena punya baju baru dan banyak makanan. Mari menilai diri. []

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline