Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Aku Tidak Nyaman

0

Oleh Widianingsih Idey Widia

“Umi, itu teteh nya”, lapor si bungsu 25 bulan seraya mendekat ke dapur.

” Apa yang terjadi, iona?”, Tanya saya.

“Tuh, Teteh nya tinggalin tinggalin”, ujarnya serius sekali.

“Bicara saja ke Teteh, ya”, tukas saya.

Dia meninggalkan dapur menuju ruang tengah. Menghampiri kakak perempuannya. Dari dapur saya mendengar dia bicara, “Teteh, Aku tidak nyaman”.

Hampir setiap kali dia lapor ada masalah dengan kedua kakaknya reaksi saya pasti sama. Bertanya ada masalah apa, lalu memberikan informasi padanya agar bicara. Dia segera bicara, masalah selesai. Kakak nya memang senang menggoda.

Di usianya yang masih 25 bulan menyelesaikan masalah dengan bicara sudah mulai terbangun, walau masih ada sedikit tangisan, atau bahkan kadang memukul kakaknya, atau siapapun yang menggodanya. Saya beri pijakan boleh menangis kalau sedih dan terluka, kakak nya di sayang, tangan untuk bekerja, kalau sudah tenang boleh bicara atau kalau dia nangis manja saya segera alihkan ke hal lain.

Kadang saya suka malu sama anak sekecil itu. Rasanya seperti ditampar saja. Saya pun masih canggung saat ada masalah bicara aku tidak nyaman. Sering saat terjadi sesuatu saya cemberut, nangis bahkan kabur saja. Ini efek sejak kecil tak mendapat pijakan selesaikan masalah dengan bicara. Saya mengira oranglain punya telepati, sehingga bisa memahami apa isi kepala saya. Ah, ternyata seorang batita bisa jadi penegur ibunya yang umurnya sudah tak muda lagi. Hmmmm, malu rasanya. []

 

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline