Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bisakah Anak Menuntut Hak pada Orangtua di Akhirat?

0

Pertanyaan : Bismillahirrahmanirrahim

warohmatullahi wabarokaatuh

Ustadz,

Saya anak yatim, mempunyai seorang ibu yang cuek ( kurang peduli ~ed) terhadap anak-anaknya dan tidak pernah ada di rumah. Saya di rumah bersama kakek dan nenek. Beliau berdua seorang yang sangat keras, kasar dan suka pamer.

Pertanyaannya:

Di akhirat nanti, seorang anak apakah boleh menuntut hak terhadap orangtuanya? Terkait tidak pernah diarahkan untuk menuntut ilmu syar’i dan juga menelantarkan.

Apabila cucu-cucunya adalah anak yang diam dan ceria. Bila suatu saat menjadi durhaka terhadap kakek dan neneknya (karena setiap hari sering dikasari, dibentak, dimarahi, dikasi beban).

Apakah salah nenek dan kakek ataukah salah cucu-cucunya? Bukankah ada ayat yang mengatakan bahwa anak itu tergantung orangtuanya. Orangtua yang menjadikannya Nasrani, Yahudi dan Majusi?

Jazaakallaahu khairan.

(Dari: Robbiya)

Jawaban : Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh

Bismillahirrahmanirrahim

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Pertanyaan ini harus dijawab dari dua sisi dan dua sudut pandang.

Pertama dari sisi orang tua/kakek-nenek :

Benar, bahwa anak merupakan titipan dari Allah dan kita kelak sebagai orang tua akan diminta pertanggung jawaban atas amanah yang Allah Ta’ala percayakan kepada kita berupa harta termasuk anak-anak. Sehingga tidak selayaknya kita menyia-nyiakan anak.

Akan tetapi kita harus memperhatikan kebutuhan fisiknya, makan minum, pakaian, dan juga kebutuhan non fisik seperti perhatian, kasih sayang, pendidikan agama dan seterusnya.

Anak memang sangat tergantung dengan model pendidikan orang tuanya dan orang-orang yang mengasuhnya, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari : 1358, Muslim : 2658).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (HR Bukhari : 7138, Muslim : 1829).

Yang kedua dari sisi anak :

Kita sebagai anak ketika sudah mengetahui bahwa kemaksiatan itu tidak baik maka semaksimal mungkin kita menjauhi kemaksiatan, menjauhi kedurhakaan dan tidak menjadikan kedua orang tua kita sebagai alasan untuk durhaka. Karena mereka kurang perhatian, berperilaku kasar, jahat dan seterusnya.

Sikapilah mereka sebagai bentuk ujian bagi kita, dan ketika kita sanggup melewati ujian ini, maka kita akan diberikan derajat tinggi di sisi Allah Ta’ala.

Jangan pernah berhenti menjadi orang baik, jangan pernah bosan menjadi anak-anak yang berbakti meski orang tua kurang perhatian kepada kita. Doakan kebaikan bagi mereka, tuntutlah ilmu agama setinggi tegak, karena ilmu itulah yang akan mengantarkan kita kepada jalan yang lurus yang diridahi oleh Allah Ta’ala.

Bukan suatu hal yang mustahil karena bakti anak dan doa baik anak kepada kedua orang tuanya, itu akan mengubah orang tua menjadi pribadi santun. Tentu kita ingin berkumpul di syurga Allah bersama keluarga kita. Apabila timbul rasa benci di hati kita, segera tepis perasaan itu dan ingatlah jasa baik orang tua kepada kita.

Dan jangan terbalik mengambil sikap, jika kita sebagai orang tua, ambillah jawaban pertama. Dan jika kita sebagai anak maka ambillah jawaban kedua. Karena obat sakit perut itu tidak cocok untuk sakit kepala.

Wallohu A’lam

Wabillahit Taufiq.

 

Dijawab oleh Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Maaf Ukhti Antum Offline