Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Lika-liku Jika Berpoligami

0

Pertanyaan: Assalamualaikum warahmatullahi wabaarokatuh

Kami menginginkan dari anda sepatah kata walaupun secara singkat tentang poligami serta nasihat kepada para wanita yang tidak menginginkan suaminya untuk berpoligami, dan apabila sang suami berpoligami maka wanita tersebut meminta talak darinya?

Jawaban :

POLIGAMI ITU ADALAH SUATU TANGGUNG JAWAB YANG BESAR !

BUKANLAH SUATU PERKARA YANG MUDAH !

Itu merupakan suatu tanggung jawab dan pada asalnya adalah sunah, bukanlah wajib !

Tidaklah poligami itu menjadi wajib kecuali apabila seseorang merasa khawatir terhadap dirinya sendiri untuk terjatuh dalam perkara yang diharamkan.

Adapun apabila dia merasa aman terhadap dirinya sendiri maka poligami adalah suatu amalan yang mustahab / sunnah, bukanlah suatu yang wajib.

Dan seorang yang berpoligami itu dia akan memikul beban tanggung jawab dikarenakan dia akan membutuhkan rumah tersendiri atau tempat tinggal yang terpisah demi menghindarkan diri dari pertengkaran / permasalahan rumah tangga, masing-masing istri memiliki rumah secara terpisah yang demikian itu adalah lebih utama, lebih sempurna dan lebih baik.

Sang istri dapat merasakan keleluasaannya di rumahnya sendiri dan istri yang lain pun dapat merasakan keleluasaannya di rumahnya sendiri, dan masing-masing istri bersama anak-anak mereka dan begitu pula para anak-anak, mereka dapat merasakan keleluasaan di rumah mereka sendiri.

Adapun seseorang mengumpulkan dua orang istri atau tiga atau empat dalam satu rumah maka sedikit sekali kemungkinannya untuk bisa selamat dari fitnah dan keributan rumah tangga, dan juga masing-masing istri bagi mereka hak nafkah.

Oleh karena itulah saya katakan kepada kalian bahwasanya poligami itu adalah suatu tanggung jawab dan tidaklah perkaranya mudah dan tidak setiap orang sukses dalam berpoligami kecuali yang telah Allah ﷻ beri taufik.

Dan apabila seseorang menginginkan perkara dengan cara serampangan (tanpa perhitungan) justru akan dikhawatirkan dia terjatuh dalam dosa apabila dia menggunakan cara-cara kasar dan keras seraya berkata :

“Tidak, aku akan mengumpulkan kalian di satu rumah dan siapa yang tidak setuju maka pintu rumah terbuka (cerai)”

TIDAK ! YANG DEMIKIAN ITU ADALAH KELIRU !

Bukanlah urusannya itu dengan kekakuan!

Antara dirimu dan dirinya ada jalinan pernikahan, ada anak-anak, apabila engkau memiliki kemampuan yakni Allah ﷻ melapangkan rezekimu dan engkau juga senang untuk melapangkan orang lain maka “jazakallahu khoiron” semoga Allah ﷻ membalasmu dengan kebaikan, maka jadikanlah untuk tiap-tiap istri rumah secara terpisah beserta furnitur / perabotannya.

Dan jadilah engkau seorang yang dermawan dan seorang yang berakhlak yakni bukan seorang yang asal bicara tanpa berpikir yaitu siapa saja dari para istri merasa jengkel / marah kepadamu, engkau katakan :

“Pintu rumah terbuka!” (diusir) yang demikian itu adalah keliru! yang demikian itu bukanlah muamalah yang baik! Bukan begitu caranya!

Bahkan katakanlah kepadanya kamu adalah bagian dari diriku, dan akupun adalah bagian dari dirimu, istri yang ini maupun yang itu semuanya adalah sama, antara aku dan dirimu ada suatu jalinan yang lebih berharga daripada dunia dan isinya, antara aku dan kamu ada anak-anak yang mana satu saja dari mereka adalah lebih berharga (bagi kita) daripada dunia dan isinya

Jadikanlah dia di atas kepalamu (hormati dan muliakan).

Adapun engkau katakan :

Pintu terbuka !

Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang (semena-mena), istri yang ini memiliki martabat dan istri yang itu juga memiliki martabat.

Orang yang layak untuk berpoligami itu, yang layak untuk menikah dua, tiga atau empat adalah:

Orang yang memiliki sikap mulia,

Seorang yang memiliki rasa malu,

Seorang yang memiliki rasa hormat dan rasa menghargai.

Bukan seorang yang seenaknya / semena-mena, sedikit-sedikit mentalak, sedikit-sedikit mengatakan pintu terbuka (mengusir).

Yang demikian itu merupakan suatu perendahan.

Agama Islam itu tatkala mensyariatkan poligami dalam pernikahan tidaklah mensyariatkannya atas dasar mendatangkan problematika rumah tangga dan fitnah, Tidak !!! Bahkan untuk mendatangkan keadilan dan rasa sportif serta kasih sayang, jadilah masing-masing dari para istri yang empat tersebut akan menghormati / memuliakanmu karena bagusnya muamalahmu kepada semua istri dan semua anak-anakmu.

Engkau tidak pilih kasih antara anak-anak dari istri yang ini dan anak-anak dari istri yang itu dan anak-anak dari istri yang ketiga dan anak-anak dari istri yang keempat, seluruhnya adalah anak-anakmu, engkau muliakan seluruh dari mereka, dan begitu juga para istri, seluruh dari mereka adalah istri-istrimu, masing-masing dari mereka memiliki hak-hak.

Apa yang terjadi dari para istri berupa sikap jengkel dan marah (terhadap perkara poligami) adalah disebabkan karena mereka (sering) mendengar cerita bahwa fulan telah berbuat zalim kepada istrinya dan fulan telah mentalak istrinya dan fulan bertindak semena-mena dan fulan tidak sportif dan fulan condong kepada salah satu istri, cerita-cerita seperti itulah yang menjadikan para wanita merasa khawatir.

Adapun bagi seorang yang baik dalam berpoligami dan baik dalam bermuamalah dan bertakwa kepada Allah ﷻ dalam muamalahnya bersama istrinya dan masing-masing istri berada dalam kebaikan dan berada dalam kenikmatan dan berkah dan berada dalam pemuliaan / penghormatan dan merasa dihargai dan engkau menunaikan kewajiban kepada masing-masing istri dikarenakan perbuatan adil di antara para istri itu wajib pada 4 perkara :

1. Tempat tinggal, masing-masing istri memiliki tempat tinggal.

2. Nafkah, seorang suami menafkahi masing-masing istri sesuai adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat, nahkah harian, makan pagi, makan siang, makan malam.

3. Pakaian dan yang berkaitan dengannya seperti sepatu / sandal dan yang selain daripada itu, jadilah engkau seorang lelaki yang bertanggung jawab menanggung pakaian dan nafkah serta tempat tinggal.

4. Bermalam, yakni seorang yang berpoligami itu harus membagi waktu, sehari bersama istri yang ini, sehari bersama istri yang itu,

Hendaklah seorang yang beristri empat berjalan di atas konsep yang demikian itu, masing-masing istri mendapat jatah hari yang sama, adil dan sportif, dan cukuplah bagi dia untuk menjadikan di setiap hari berupa kunjungan kepada ketiga istri atau keempat istri sesuai dengan kemampuan dia atau kedua istri, yakni misalnya jatah harian dia berlaku pada istri yang ini akan tetapi hendaknya dia berkunjung / mampir menengok seluruh istri yang lain dan begitu pula di hari kedua dia berada pada istri yang lain dan hendaknya dia berkunjung / menengok seluruh istri yang lainnya dan mengkhususkan waktu untuk mampir berkunjung ke istri kedua, ketiga, dan keempat.

Dan sebagaimana yang saya sampaikan kepada kalian, janganlah seseorang itu menjadi seorang suami yang tukang fitnah, janganlah dia menyulut fitnah di antara para istri.

Karena terkadang para istri bisa saling memahami namun justru yang keliru itu adalah sang suami dialah yang malah mendatangkan problematika serta fitnah, dia mengadakan fitnah di antara para istri [seperti memuji-muji dan membanding-bandingkan istri yang satu di hadapan istri lainnya dan yang semisal itu], namun yang demikian itu hanyalah terjadi pada sebagian dari para suami tidaklah seluruhnya.

Maka apabila dia baik dalam bermuamalah masyaAllah, maka kita katakan kepadanya : “jazaakallahu khoiron, semoga Allah mendatangkan kebaikan kepadamu.”

Yang tadinya nafkah terbatas kepada satu istri saja, engkau melapangkannya untuk kaum muslimah, engkau memiliki 4 orang istri, masing-masing istri mendapatkan nafkah, rumah dan penghormatan serta pemuliaan dan juga terpenuhi kebutuhannya, dan jika engkau pergi haji engkau mengundi di antara 4 istri, siapa yang akan terpilih untuk mendampingimu pergi haji, dan siapa yang menang dalam undian tersebut maka dia yang terpilih untuk mendampingimu pergi haji, dan begitu juga di tahun kedua, engkau adakan undian di antara 3 istri dan siapa yang menang dalam undian tersebut maka dialah yang berhak berangkat haji bersamamu, dan tahun berikutnya juga begitu engkau adakan undian antara 2 istri dan siapa yang menang dia yang berhak engkau berangkatkan haji dan begitu pula istri yang setelahnya, dan untuk umroh pun semisal itu.

Saya memohon kepada Allah ﷻ agar memberi taufik kepada kami dan kepada kalian dan kepada seluruh kaum muslimin kepada perkara yang diridhaiNya dan dicintaiNya.

 

Dijawab oleh: Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi rohimahullah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy

Maaf Ukhti Antum Offline