Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jika Luput dari Hari Ketujuh Aqiqah?

0

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ketujuh, dicukur gundul (rambut kepalanya), dan dinamai (bayi itu) dengan nama yang baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi).

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa aqiqah dilaksanakan di hari ketujuh kelahiran anak, namun sebagian dari kita qadarullah tidak memiliki kecukupan untuk melaksanakannya di hari itu. Lalu bagaimana hukumnya?

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, Islam menganjurkan kita untuk menyembelih hewan aqiqah saat bayi kita berusia tujuh hari. Akan tetapi ada sebagian dari kita yang tidak berkecukupan harta, sehingga sang anak tidak diaqiqahi.

Apabila tiba masa dewasanya, si anak menjadi orang yang berkecukupan, apakah ia wajib beraqiqah untuk dirinya sendiri?

Pada laman rumaysho.com disebutkan, Jika orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah (yaitu pada hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran), maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya. Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan.

Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.

Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Namun anak laki-laki boleh juga dengan satu ekor kambing. Sedangkan aqiqah untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing dan lebih utama tidak menambahnya dari jumlah ini. Allahu A’lam Bisshawab.

Hari ketujuh inilah waktu yang disepakati oleh para ulama untuk akikah. Jika luput dari hari ketujuh :

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa akikah jadi gugur jika luput dari hari ketujuh.

Ulama Hambali berpendapat bahwa jika luput dari hari ketujuh, akikah dilaksanakan pada hari ke-14, jika tidak pada hari ke-21.

Sedangkan ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa akikah masih jadi tanggung jawab ayah hingga waktu si anak baligh. Jika sudah dewasa, akikah jadi gugur. Namun anak punya pilihan untuk mengakikahi diri sendiri. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30: 279.

Penulis kitab Mughnil Muhtaj, Asy Syarbini rahimahullah berkata, “Jika telah mencapi usia baligh, hendaklah anak mengakikahi diri sendiri untuk mendapati yang telah luput.” (Mughnil Muhtaj, 4: 391).

Akikah Ketika Dewasa :

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hukum akikah adalah sunnah mu’akkad. Akikah bagi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan bagi wanita dengan seekor kambing. Apabila mencukupkan diri dengan seekor kambing bagi anak laki-laki, itu juga diperbolehkan. Anjuran akikah ini menjadi tanggung jawab ayah (yang menanggung nafkah anak). Apabila ketika waktu dianjurkannya akikah (misalnya tujuh hari kelahiran, pen), orang tua dalam keadaan fakir (tidak mampu), maka ia tidak diperintahkan untuk akikah. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian” (QS. At Taghobun: 16). Namun apabila ketika waktu  dianjurkannya akikah, orang tua dalam keadaan berkecukupan, maka akikah masih tetap jadi perintah bagi ayah, bukan ibu dan bukan pula anaknya.” (Liqo-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, kaset 214, no. 6)

Kesimpulan dari Ust. Abduh Tuasikal, akikah ketika dewasa tidak perlu ada dengan alasan:

1. Akikah jadi gugur ketika sudah dewasa.

2. Mengakikahi diri sendiri tidaklah perlu karena tidak ada hadits yang mendukungnya, ditambah akikah menjadi tanggung jawab orang tua dan bukan anak

3. Jika ingin mengakikahi ketika dewasa, maka tetap jadi tanggungan orang tua. Dilihat apakah saat kelahiran, orang tua dalam keadaan mampu ataukah tidak. Jika tidak mampu saat itu, maka tidaklah perlu ada akikah karena akikah tidaklah bersifat memaksa. Jika mampu saat itu, maka hendaklah orang tua menunaikan akikah untuk anaknya.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. []

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy

Maaf Ukhti Antum Offline