Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jilbab Bukan Sekadar Trend

0

Oleh : Tri W Fawra, [email protected]

Sebagai hamba Allah, kewajiban mengenakan jilbab sudah harga mati yang harus ditaati. Itulah yang membedakan kita sebagai seorang muslimah.

BACA JUGA: Agar Jilbab Anda Selalu Rapi, Ikuti Tips Ini

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf : 26)

Sekarang ini trend hijab semakin berwarna warni, banyak bermunculan hijaber yang mengikuti fashion hijab masa kini, ini termasuk hal positif yang terjadi. Namun tak sedikit yang beralih memakai jilbab, tanpa tahu arti jilbab itu sendiri. Mereka hanya mengerti kepala ditutupi, namun bagian leher ke bawah tak diperlakukan secara syar’i, karena tak ingin dianggap tak mengikuti zaman modernisasi.

Balutan kain yang menempel mengikuti lekuk tubuh, karena minimnya bahan pakaian yang dikenakan, membuat para lelaki semakin liarkan pikiran, memandang lawan jenis tanpa sungkan.

Hingga muncullah istilah jilboobs, yang merupakan gabungan kata jilbab dan boobs (payudara) digunakan untuk menggambarkan perempuan berkerudung yang tidak menutup bagian dada, bahkan berselfie ria dan mengunggah foto mereka ke dunia maya.

Mengenakan hijab pada dasarnya berfungsi untuk menutup aurat, juga menghindari dari gangguan para lelaki yang tak sanggup menahan hasrat.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Oleh karenanya, memakai pakaian takwa yang baik setidaknya memenuhi tiga unsur, yaitu tertutup, tidak transparan, dan tidak membentuk lekuk tubuh.

Seorang muslimah sudah sepatutnya tidak ragu untuk berjilbab sesuai dengan norma agama. Seperti dalam firman-Nya:

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali sesuatu yang (biasa) tampak darinya. Hendaknya mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (sehingga dada mereka tertutupi), janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali untuk suami-suami mereka, atau ayah dari suami-suami mereka atau putra-putra mereka, atau anak laki-laki dari suami-suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara-saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka atau budak-budak mereka atau laki-laki (pembantu di rumah) yang tidak memiliki syahwat atau anak kecil yang tidak paham terhadap aurat wanita. Dan janganlah kalian mengeraskan langkah kaki kalian sehingga diketahui perhiasan yang tertutupi (gelang kaki). Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian semua kepada Allah swt supaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur : 31)

Kita juga bisa belajar dari kisah para perempuan Anshar dari kaum Muhajirin (ikut hijrah) pertama yang disayangi Allah SWT. Karena ketaatannya, ketika datang ayat QS. AN-Nur: 31, mereka langsung menyobek kain wolnya untuk dijadikan kerudung (Shahih Bukhari Bisyahril Karmani, Juz XVIII, p.26-27). Bukti cintanya pada Tuhan mereka, sehingga tidak bertanya lagi kenapa harus melakukan suatu hal yang (pada saat itu) tidak umum.

Hijab dalam bahasa arab yang artinya penghalang yaitu merujuk pada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan yang diperintahkan-Nya. Seperti dalam surat An-Nuur : 31 di atas.

Memakai hijab atau baju longgar, dari leher hingga ujung kaki beserta kerudung, sudah menjadi ketetapan-Nya, karena sayangnya Allah pada kaum hawa, hingga tercantumlah surat An-Nisaa di dalam Al-Quran.

Allah memberikan perintah pasti selalu ada kebaikan di dalamnya, jangan sampai kasih sayang yang telah Allah berikan kepada kita berbuah bencana, karena kita tidak menjalankan.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab : 36)

Marilah kita bersama-sama perbaiki diri kearah yang lebih baik, tidak perlu menonjolkan aurat yang seharusnya disembunyikan hanya karena ingin terlihat modis dan fashionable. Jika belum bisa menggunakan jilbab secara syar’i, minimal tidak memakai pakaian yang transparan dan ketat hingga membentuk lekuk tubuh. Karena memakai jilbab bukan paksaan melainkan harus dari hati. Namun hidayah tak akan datang sendiri jika kita tak berusaha menjemputnya.

Wallahu a’lam bish-shawab. []

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Privacy & Cookies Policy

Maaf Ukhti Antum Offline