Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Pijakan Itu Penting

0

Oleh: Widianingsih, M.Ag

Suatu hari saya dapat sebuah pesan dari salah satu orangtua siswa, bunyi pesannya seperti ini.

” Assalamualaikum, ummi maaf mengganggu. Saya mau bercerita tentang kakak dan Hilmy.

Kejadiannya sudah agak lama, cuma saya masih kepikiran.

BACA JUGA: Setiap Anak Itu Hebat dan Unik

Ceritanya begini.
Waktu kakak dan Hilmy di bawa ke Toserba, mereka berdua minta di belikan monopoli, dari awal sebelum berangkat, saya sudah memberikan pijakan. Kalau ke Toserba itu hanya membeli kebutuhan saja.

Saya berbicara kepada mereka ada jatah Rp. 20.000,- khusus untuk hari itu. Mereka boleh memakainya untuk main atau membeli jajanan.
Mereka pun setuju.

Ternyata setiba di Toserba, mereka berdua diskusi, uang Rp. 20.000,- itu akan dipakai membeli monopoli, tapi uangnya masih kurang Rp.7000,-.

Mereka bicara kepada saya, kalau monopoli itu harganya Rp.27000,- lalu mereka meminta saya menambah kekuranganya.

Saya bilang, baiklah mamah akan tambah uangnya, tapi besok uang jajan kalian di potong ya, mereka pun setuju.

Ketika membayar belanjaan di kasir mereka terlihat bahagia dan senang sekali, keduanya mencium pipi saya dan mereka bilang terimakasih.

Saya di lihat bnyak orang yang antri di kasir,
Tapi saya bersikap biasa saja, sambil senyum dan mengatakan sama-sama.

Saya merasakan sekali, bahwa pijakan itu sangat penting ya, Ummi”, tukasnya mengakhiri cerita.

Pijakan memang sangat penting dilakukan oleh orangtua maupun guru. Apa itu pijakan? Jika bisa kita analogikan, pijakan itu seperti saat kita hendak membuat pondasi atau mengecor sebuah tiang, kita akan buat papan papan yang mampu menahan coran bertahan. Setelah kering dan kuat, papan itu akan dilepas. Seperti itulah pijakan pada anak.

Sebelum melakukan sebuah kegiatan alangkah lebih baiknya sampaikan pijakan di awal agar kegiatan berlangsung dengan lancar.
Sebelum berangkat berbelanja orangtua bicara, bahwa dasar kitavmembeli sesuatu ada tiga, kita membeli sesuatu yang kita suka, kita membeli yang bermanfaat dan kita membeli sesuatu sesuai kemampuan.

Jika hal ini disampaikan diawal, anak akan lancar saat berbelanja. Tak ada tangisan apalagi tantrum hanya untuk membeli sesuatu yang ia inginkan.

Interaksi antara orangtua dan anak pun terbangun positif, saat berbelanja menjadi saat yang menyenangkan. Anak belajar banyak dalam satu kegiatan belanja saja. Sikap kasih sayang, sikap sabar, sikap ikhlas, sikap tanggung jawab, sikap syukur juga belajar menunda keinginan.

Bila dalam setiap kegiatan terbangun interaksi positif, maka akan tersimpan jejak di otak anak akan hal hal positif yang tentu akan menolong hidupnya kelak. []

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline