Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Asiah, Wanita yang Dijanjikan Surga (Bagian 2-Habis)

0

Kemurkaan dan dendam Fir’aun semakin memuncak, lebih-lebih setelah mengetahui bahwa istrinya, Asiah bintu Muzahim, benar-benar sudah beriman kepada bekas anak angkatnya, Musa bin ‘Imran ‘alaihissalam. Akhirnya, setiap hari Asiah dijemur di bawah terik matahari. Namun, setiap kali dia ditinggal sendirian oleh Fir’aun, para malaikat datang menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

Bosan dengan satu jenis siksaan, Fir’aun memerintahkan prajuritnya mencari batu besar untuk dilemparkan ke tubuh Asiah yang sedang dijemur.

“Tanyai dia! Kalau dia tetap beriman, lemparkan batu itu ke tubuhnya. Kalau dia menarik ucapannya, dia tetap sebagai istriku.”

Ternyata, Asiah tetap berpegang pada keimanannya. Fir’aun dan beberapa pembesarnya melihat ke arahnya yang tersenyum. Mereka pun terheran-heran, “Sudah gila dia rupa-rupanya. Kita siksa dia dengan hebat, dia malah tersenyum.”

BACA JUGA: Sebagaimana Maryam binti Imran Menjaga Diri

Ahli tafsir menyebutkan bahwa Asiah tersenyum karena doanya dikabulkan oleh Allah ﷻ

Sebuah rumah dari permata putih sudah disediakan untuknya di dalam surga. Allah ﷻ menyelamatkannya dari keganasan Fir’aun dan tentaranya. Allah ﷻ mencabut ruhnya, menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun. Batu besar yang disiapkan untuk meremukkan tubuh Asiah akhirnya dilemparkan juga, tetapi hanya menimpa seonggok jasad yang sudah kaku.

Ruh wanita yang mulia ini telah sampai di sisi Khaliqnya.

Keimanan Asiah dan keberadaannya bersama Fir’aun menjadi ibrah bagi kaum wanita yang datang sesudahnya. Asiah hidup di atas keimanan yang sempurna, keteguhan yang utuh, dan selamat dari ujian. Oleh karena itu, sangatlah pantas Rasulullah ﷺ menyebutkan dalam sabda beliau,

كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ؛ وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Yang mulia dari kalangan pria itu banyak, tetapi tidak ada yang sempurna dari kalangan wanita selain Asiah, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran; dan sesungguhnya keutamaan ‘Aisyah di atas kaum wanita seperti keistimewaan tsarid daripada semua makanan.”

Allah ﷻ berfirman mengabadikan kisahnya sebagai sebuah contoh nyata bagi orang-orang yang beriman,

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ١١

 “Allahﷻ menjadikan istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (at–Tahrim: 11)

Demikianlah perumpamaan yang dibuat oleh Allah ﷻ untuk orang-orang yang beriman, bahwa hubungan keluarga atau kekerabatan dengan orang-orang kafir tidak memudaratkan mereka, tidak mengurangi pahala mereka, dan tidak merusak kedekatan mereka kepada Allahﷻ selama mereka menjalankan kewajiban mereka.

BACA JUGA: Wanita Mulia dari Kalangan Yahudi (Bagian 1)

Loading...

Kedudukan Asiah di sisi Allah ﷻ tidak berubah meskipun dia adalah istri musuh-Nya yang paling berani mengucapkan kata-kata yang sangat buruk.

Dari kisah ini kita dapat memetik beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut.

Tidak dapat diingkari bahwa al-Qur’anul Karim memberikan banyak perumpamaan dalam membimbing manusia. Akan tetapi, perumpamaan-perumpamaan tersebut tidak dapat dimengerti selain oleh orang-orang yang berilmu.

Perumpamaan yang dipaparkan oleh Allah ﷻ dalam surat at-Tahrim ini telah memberikan pengaruh yang luar biasa, yang terlihat nyata dalam kehidupan dua ibunda orang-orang yang beriman, yaitu ‘Aisyah dan Hafshah, serta yang lainnya.

Kejahatan dan kezaliman Fir’aun tidak menghalangi Asiah untuk mengatakan, “Aku beriman kepada Rabb Musa dan Harun (yaitu Allahﷻ) Keimanan yang meresap ke dalam hati Asiah adalah keimanan yang sejati, tidak goyah oleh terpaan badai dan godaan atau cobaan apa pun. Hal ini terlihat ketika dia dengan tabah menerima siksaan dari suaminya sendiri. Asiah tidak meminta keringanan, tetapi berdoa kepada Allahﷻ agar dibuatkan rumah untuknya di dalam surga.

BACA JUGA: Wanita Mulia dari Kalangan Yahudi (Bagian 2-Habis)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang wanita yang bersabar menghadapi keburukan akhlak suami akan diberi pahala oleh Allahﷻ seperti yang diberikan-Nya kepada Asiah.

Wallahu a’lam.

 

SUMBER: QONITAH



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline