Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Dua Cinta

0

Cinta ibu sepanjang hayat. Cinta anak sepanjang galah. Andai ada cinta lain yang bergelantung di hati anak, yang lebih panjang dari galah dan lebih bernilai dari kehidupan. Tentu, akan ada pertarungan seru.

Semua ibu ingin kebaikan buat anaknya. Seorang ibu menginginkan anaknya sehat, cerdas, saleh, dan selamat. Dunia dan akhirat.

Masalahnya, kebaikan menurut ibu tidak selalu sama di pikiran anak. Terlebih jika sang anak sudah mulai punya prinsip. Jadilah kebaikan berada di sebuah persimpangan. Hal itulah yang kini dialami Bu Juju.

Ibu usia lima puluhan ini selalu berusaha menjaga syukurnya kepada Allah swt. Walau sudah ditinggal suami, Bu Juju masih punya teman. Dialah anak tunggalnya yang amat disayang. Sudah ganteng, sehat, saleh lagi. Walau hidup seadanya, anak buat Bu Juju sudah menjadi harta yang tidak ternilai.

BACA JUGA: Cinta Ayah Sama Besarnya Seperti Cinta Ibu

Tiap hari, ketika akan berangkat kuliah, Bu Juju mewanti-wanti anaknya agar hati-hati di jalan. “Naik kereta jangan gelantungan di pintu, ya Yang. Nanti bisa jatuh!” ucap Bu Juju sambil menyiapkan dagangannya.

Sejak ditinggal mati suami, Bu Juju menyibukkan dirinya berjualan makanan ringan. Ada es mambo, permen, coklat, kacang, biskuit, dan beberapa makanan olahan sendiri. Di antara makanan olahan Bu Juju yang lumayan laris adalah pisang coklat keju.

Dari situlah, Bu Juju bisa membiayai kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya sekolah anaknya. Ia berharap, anaknya bisa hidup lebih baik.

Namun, ada satu hal yang beberapa hari terakhir ini mengusik ketenangan Bu Juju. Dan itu berurusan dengan Yayangnya, anak semata wayang Bu Juju. “Emang anak Ibu kenapa? Mau kawin?” tanya seorang tetangga yang kebetulan mampir di warung Bu Juju.

Bu Juju langsung menggeleng. “Bukan!” jawabnya singkat. Ia pun cerita. Beberapa hari lalu, anak Bu Juju bicara aneh. Entah sedang bercanda atau serius, anak Bu Juju bilang, “Mak, boleh nggak kalau Udin ke Palestina? Udin mau jihad lawan Israel!”

Deg. Tentu saja, Bu Juju kaget. Ia bingung bukan kepalang. Bukan berarti Bu Juju tidak setuju anaknya punya perhatian tinggi dengan umat Islam di Palestina. Bukan juga karena Bu Juju tidak setuju anaknya punya semangat jihad. Tapi, siapa yang mau ngerikin kalau sang anak masuk angin. Siapa yang mau nyediain makanan kegemaran anaknya: pisang coklat keju. Siapa yang mau ngusap-ngusap rambut anaknya kalau sang anak nggak bisa tidur. Dan masih banyak lagi yang lain.

BACA JUGA: Surat Cinta Untuk Anakku

Dan yang lebih penting. Anak Bu Juju tergolong yang kurang berani. “Nah kesenggol kecoa aja blingsatan bukan main, masak mau lawan Israel?” ucap Bu Juju memperlihatkan ketidaksetujuan.

Emang sih, anak Bu Juju sudah ikut latihan karate. Tapi, Bu Juju masih belum yakin dengan yang namanya nyali. “Kan, Si Udin udah belajar karate, Mak?” tanya seorang tetangga suatu kali. “Biar punya karate, kalau orangnye takut, ya jiper juga!” sergah Bu Juju menimpali.

Namun belakangan ini, Bu Juju melihat perkembangan lain dari anaknya. Anak Bu Juju sudah berani salat malam sendirian. Ia pun tidak lagi takut masuk kamar mandi di malam hari lantaran banyak kecoa. Sepertinya, anak Bu Juju mulai membuktikan kalau ia siap menjadi mujahid.

Di sinilah bingungnya Bu Juju. Ia ragu apa mesti bangga atau takut. Ia sama sekali belum siap, kalau suatu hari anaknya memang benar-benar ingin berangkat jihad ke Palestina. Tidak heran jika hati kecil Bu Juju mencari-cari celah untuk membuktikan kalau Yayangnya belum siap jihad.

Loading...

Tiap pagi selepas salat subuh, Bu Juju menatapi anaknya yang mulai rajin lari pagi. “Din, nggak sarapan dulu!” teriak Bu Juju yang mendapati anaknya sudah berangkat sebelum ia bicara. Padahal, pagi itu begitu mendung.

Belum lagi hilang kekhawatiran Bu Juju, hujan deras mulai mengguyur. Terbayanglah sosok Yayangnya yang kurus, belum sarapan, berlari kedinginan karena siraman hujan. “Yah, masuk angin lagi dah, tuh anak!” keluh Bu Juju dalam hati.

Kekhawatiran itu memang wajar. Karena anak tunggal Bu Juju memang nyaris tak pernah tersentuh air hujan. Apalagi jika belum sarapan. Selama ini, Bu Juju begitu keras kalau soal hujan. Ia trauma dengan suami tercintanya yang meninggal karena sakit parah lantaran berhujan-hujanan.

BACA JUGA: Murtad Karena Cinta

Lama Bu Juju menunggu. Hujan pun sudah reda lama. Sesekali, Bu Juju melongok ke arah jalan. “Kemana tuh anak? Jangan-jangan pingsan di jalan!” batin Bu Juju pun ikut khawatir.

Tiba-tiba, ia melihat orang berlari begitu kencang menuju ke arahnya. Dan ternyata, orang itu adalah anak Bu Juju. Ia hampir tak percaya kalau anaknya bisa berlari sekencang itu.

Setelah mengucap salam, sang anak pun langsung masuk kamar. Bu Juju baru sadar kalau Yayangnya sudah berubah jauh. Dalam takjubnya itu, seseorang mengetuk pintu depan. Setelah pintu terbuka, orang itu pun bilang, “Maaf Bu. Tadi, anjing kecil saya ngejar-ngejar anak ibu. Sekali lagi, mohon maaf!” []

SUMBER: MAJALAHSAKSI

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline