Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Air Susu Dibalas Air Tuba

0

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Andaikan ada orang yang berjasa pada Anda, sering membantu Anda dalam kondisi Anda amat membutuhkan bantuan, kuasakah Anda untuk menolak permintaannya? Atau tegakah Anda untuk berbuat buruk padanya? Saya yakin kebanyakan kita enggan melakukan perbuatan itu. Alasannya sederhana saja, tidak mau membalas air susu dengan air tuba. Alias tidak tega membalas kebaikan dengan keburukan.

Sadarkah kita bahwa ternyata sebenarnya kita sering membalas air susu dengan air tuba? Bahkan mungkin setiap hari kita melakukan tindak tak terpuji tersebut!

Siapakah yang paling berjasa kepada kita? Yang selalu berbuat baik kepada kita walaupun kita berbuat buruk kepadanya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Pencipta kita, yakni Allah tabaraka wa ta’ala.

Berbicara tentang kebaikan Allah pada kita, tentu tidak akan ada habisnya. Sebab karunia nikmat-Nya tak terhitung jumlahnya. [QS. Ibrahim (14): 34]. Teramat sering Allah melimpahkan berbagai karunia-Nya pada kita, tanpa sebelumnya kita meminta karunia tersebut kepada-Nya.

Semata-mata hanya karena belas kasihan-Nya pada kita. Entah itu nikmat yang bersifat duniawi, maupun ukhrawi.

BACA JUGA: Mengingat Pemutus Kenikmatan

Namun realitanya, bagaimanakah kita membalas kebaikan tak berbatas tersebut? Saya yakin bahwa kebanyakan kita belum membalas karunia tersebut sebagaimana mestinya. Bahkan seringkali membalas air susu dengan air tuba. Bagaimana tidak, sedangkan hampir-hampir tak berlalu hari, melainkan pasti kita isi dengan maksiat kepada Allah ta’ala.

Tragisnya, disadari atau tidak, setiap kita berbuat maksiat kepada Allah, ternyata media yang kita gunakan untuk bermaksiat adalah karunia yang Allah berikan pada kita! Orang yang melanggar perintah Allah dengan menggunjing, dengan alat apakah ia menggunjing? Tentu dengan lisan. Bukankah lisan itu adalah karunia dari Allah? Orang yang melanggar aturan Allah dengan enggan menunaikan zakat hartanya.

Harta itu siapa yang mengaruniakannya jika bukan Allah? Orang yang berjalan ke tempat maksiat, ia pasti berjalan menggunakan kedua kakinya. Sadarkah dia bahwa kedua kaki itu merupakan karunia dari Allah? Orang yang mengumbar pandangan matanya untuk melihat hal-hal yang diharamkan agama. Dengan apa dia melihat, jika bukan dengan kedua matanya, yang itu juga merupakan karunia dari Allah ta’ala! Begitu seterusnya…

Tidak berlebih seandainya dikatakan bahwa setiap pelanggaran kita pada Allah, sejatinya di dalamnya kita menggunakan fasilitas kebaikan Allah ta’ala. Alias kita membalas kebaikan Allah dengan keburukan!

Allah tentu maha kuasa untuk mencabut berbagai nikmat tersebut dalam sekejap. Izin melihat, mendengar, berbicara, berjalan dan semisalnya tiba-tiba dicabut. Sehingga kita menjadi manusia yang buta, tuli, bisu dan lumpuh!

Jika demikian, mengapa Allah tidak (atau belum) melakukannya? Bisa jadi karena belas kasihan-Nya pada kita. Dia masih memberi kesempatan bagi kita guna menyadari kekeliruan tersebut, untuk kemudian memperbaikinya. Namun ternyata lagi-lagi, belas kasihan tersebut kita balas dengan air tuba! Justru kita semakin terpedaya dengan uluran tersebut.

Ketahuilah bahwa Allah menunda tapi tidak lupa. Saat Allah tidak segera menimpakan hukuman bukan berarti perbuatan dosa kita terlupakan. Justru setiap detil perbuatan kita tercatat dengan rapi.

“Kelak diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, “Betapa celakanya kami. Kitab apakah ini? Tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar tercatat semuanya”. Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang jua pun”. QS. Al-Kahfi (18): 49.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat…



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas