Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bolehkah Mengenakan Jilbab yang Ketat?

0

Sahabat Muslimah, tahukah Anda dalam Islam wanita adalah makhluk yang istimewa. Oleh karena itu muslimah diperintahkan untuk menutup aurat. Tujuan dari perintah menutup aurat ini tak lain dan tak bukan adalah untuk melindungi wanita muslimah dari bahaya syahwat yang selalu mengintai.

BACA JUGA: Jilbab Gaul, Penarik Perhatian Kaum Laki-laki (1)

Namun saat ini banyak muslimah yang mengenakan jilbab yang ketat. Nah, bagaimanakah islam memandang hal ini?

Jilbab disyaratkan harus longgar, karena maksud dan tujuan (seorang wanita) berpakaian tidak lain adalah untuk menghilangkan fitnah (ketertarikan laki-laki asing). Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan potongan yang longgar.

Karena pakaian yang ketat, meskipun bisa membuat tertutupnya warna kulit, namun tetap dapat menggambarkan lekuk tubuhnya sehingga masih akan menggoda pandangan laki-laki. Bila pakaian wanita seperti itu keadaannya niscaya akan mengundang banyak kemaksiatan dan menimbulkan kerusakan bagi laki-laki yang melihatnya. Oleh karena itulah pakaian wanita mesti harus longgar, tidak ketat.

Usamah bin Zaid pernah berkata:

“Pernah Rasulullah  memberi saya baju qibthiyah yang tebal hadiah dari Dihyah Al-Kalbi. Baju itu pun saya pakaikan pada istri saya. Nabi bertanya kepada saya, ‘Mengapa kamu tidak pernah memakai baju qibthiyah?’ Saya menjawab, ‘Baju itu saya pakaikan istri saya.’ Beliau lalu berkata, ‘Perintahkan istrimu agar memakai baju dalam ketika memakai baju qibthiyah, karena saya khawatir baju qibthiyah itu masih

bisa menggambarkan bentuk tulangnya. “”02 Rasulullah  memerintahkan agar wanita yang memakai

baju qibthiyah itu juga memakai pakaian dalam agar tidak nampak lekuk tubuhnya. Perintah pada asalnya wajib, sebagaimana ditetapkan dalam ilmu Ushul Fikih. Oleh karena itulah, Asy-Syaukani berkata, “Hadits ini menunjukkan wajibnya seorang wanita memakai pakaian yang menutup seluruh badannya dengan pakaian yang tidak menggambarkan bentuk tubuhnya. Ini menjadi syarat dari pakaian yang merupakan penutup aurat.

Rasulullah  memerintahkan agar istri Usamah mengenakan pakaian dalam di balik baju qibthiyahnya itu, karena biasanya baju qibthiyah itu tipis sehingga tidak bias menyembunyikan warna kulit dari pandangan orang atau paling tidak akan menggambarkan lekuk tubuhnya.”

Asy-Syaukani, sebagaimana bisa kita lihat, membawa hadits tersebut kepada pembicaraan sebuah pakaian tipis yangtidak dapat menyembunyikan terlihatnya warna kulit. Sebenarnya hadits ini lebih tepat dia tempatkan pada pembahasan syarat sebelumnya, yaitu syarat ketiga. Karena di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa pakaian qibthiyah tadi bahannya tebal namun masih bisa menggambarkan lekuk tubuh.

Pendapat Asy-Syaukani diatas lemah, karena:

Pertama. Hadits tersebut menjelaskan bahwa baju qibthiyah yang beliau Sberikan kepada Usamah adalah baju qibthiyah yang tebal.

Baju seperti itu bagaimana bisa menggambarkan warna kulit dan tidak dapat menutupinya dari pandangan manusia?! Barangkali Syaukani lupa adanya kata “tebal” pada hadits tersebut, sehingga dia menafsirkan pakaian qibthiyah sebagaimana pakaian qibthiyah pada umumnya,

yaitu tipis.

Kedua. Nabi  sendiri menjelaskan sebab pelarangannya adalah karena kekhawatiran beliau  dengan pakaian qibthiyah tadi, yaitu dengan mengatakan: “…karena saya khawatir baju qibthiyah itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.” Ini adalah merupakan bukti yangjelas bahwa yang dihindari tidak lain adalah ternampakkannya lekuk tubuh, bukan warna kulitnya.

Loading...

Jika Anda bertanya: Jika permasalahnnya sebagaimana yang Anda katakan, padahal pakaian qibthiyah tadi tebal, lalu apa gunanya pakaian dalam yang beliau perintahkan untuk dipakai?’

Jawabnya: Gunanya adalah untuk menghindarkan diri dari hal yang dikhawatirkan Nabi

Karena baju qibthiyah tersebut, meskipun tebal, terkadang masih menggambarkan lekuk tubuh,karena dia memiliki karakter lembut dan lentur di tubuh seperti pakaian yang terbuat dari sutera atau tenunan dari bulu domba yang dikenal di zaman kita sekarang ini. Jadi, Rasulullah  memerintahkan istri Usamah untuk memakai pakaian dalam tidak lain karena hal ini.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: Jilbab Wanita Muslimah/Penulis: Muhammad Nashiruddin Al Albani&/Penerbit: Al Maktabah Al Islamiyah



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas