Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Poligami dan Nafsu Laki-laki

0

Sebagian orang yang mengatakan bahwa laki-laki yang melakukan praktik poligami adalah karena dorongan nafsu. Bagaimana seharusnya kita mendudukkan perkara ini? 

Pernyataan seperti, “Laki-laki melakukan poligami karena nafsu” sepertinya sudah menjadi hal yang lazim kita dengar di masyarakat. Seolah menambah semakin buruk citra yang melekat pada perkara halal bak “Surga yang tak dirindukan” ini.

Hal ini tentu tak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam dalam memojokkan syariat Islam secara keseluruhan.

Mengapa dikatakan demikian? Tentu bukan tuduhan tanpa alasan. Kita bisa search dengan keyword “agenda Illuminati Yahudi”, akan kita dapati diantara tujuan New World Order ala Illuminati Yahudi ini pada point 3 yaitu, “Menghapuskan nilai-nilai kehidupan keluarga.”

Dan sebagaimana kita tahu pula, syariat Islam yang masih eksis saat ini hanya sedikit dari hukum-hukum seputar masalah keluarga, beberapa tahun belakangan ini pun ada yang mencoba mengobrak-abrik isinya oleh mereka yang bangga disebut kaum gender yang liberal. Misal, dengan rencana penggolan CLDKHI-nya Musdah Mulia. Di antara point di dalamnya ada gugatan terhadap praktik poligami.

BACA JUGA: Poligami Adalah Ujian Keimanan bagi Istri

See? Stigmatisasi buruk terhadap syariat ini by design. Dengan menstimulus sisi halus kaum hawa. Atau nekadnya kaum Adam. Rupanya, di era ini, rencana kelompok Illuminati hampir berhasil. Kalaulah bukan ada segolongan umat yang masih bersikap adil terhadapnya. Bertekad membumikan kembali syariat yang dianaktirikan. Kalaulah bukan karena itu, niscaya syariat ini tertutup dalam aplikasi sejarah.

Bukan hanya di Indonesia, tapi seolah sudah menjadi lagu wajib di belahan bumi manapun untuk mengesankan negatif tentang Islam & syariatnya.

Ada pengalaman menarik, misal yang dialami Ustadz Mahrus Fatawi, member grup PSI, selama tinggal di Sydney, setiap kali beliau mencoba menjelaskan tentang Islam pada rekan kerja yang notabene kafir, selalu muncul pertanyaan tentang poligami, “Apakah betul dalam Islam laki-laki boleh poligami?”

Walaupun tidak melulu pertanyaan tersebut dilontarkan dengan nada sinis, tapi paling tidak beliau mendapat kesimpulan bahwa mereka memandang Islam itu jelek salah satunya karena “Poligami”. Phobi dengan syariatnya.

Bisa kita katakan wajar karena mereka yang bukan dari kalangan internal Muslim bukan? Lantas, bagaimana jika yang phobi, alergi, nyinyir, sensitif, atau apalah itu namanya berasal dari kalangan kita sendiri? Tidak kah memvisualisasikan keanomalian?

Cerita berlanjut, setelah beliau jelaskan bagaimana poligami dalam Islam, termasuk hak dan kewajiban suami/istri, maka umumnya mereka terpesona dengan keindahan Islam. Bahkan ada salah satu rekan kerja beliau secara terang-terangan mengakui mau dijadikan istri kedua, Masya Allah.

Terlebih ketika mereka melihat fakta, bahwa “selingkuh” sudah menjadi rahasia umum pada kehidupan masyarakat barat.

Bagaimana beratnya sebagai seorang perempuan yang harus menanggung hidupnya sendiri. Terpaksa menjadi tulang punggung. Seorang istri harus rela patungan dengan sang suami untuk memenuhi kebutuhan, dan masih banyak lagi perilaku yang mereka jalani sebagai dampak dari adanya kesetaraan gender, meskipun bertentangan dengan kodratnya sebagai wanita.

Maka dari itu, ketika kita jelaskan Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, jangankan muslim, kafir saja terpesona dengan keindahan Islam.

Kembali ke laptop, maksudnya ke pertanyaan di awal. Pernyataan-pernyataan bernada sinis tentang poligami itu adalah hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Meskipun seharusnya tidak demikian di kalangan Muslim. Hal ini tidak lepas dengan upaya musuh Islam mengopinikan negatif tentang Islam. Ditambah dengan beberapa praktik poligami yang tidak sesuai syariat, yang tak sedikit terjadi di masyarakat, yang malah menjadi pemicu rusaknya mahligai rumah tangga.

Loading...

Lantas apa karena adanya oknum demikian malah kita sah menggeneralisir buruk syariat yang memiliki banyak hikmah ini?

Apalagi jika kita menilik aspek demografi dan patologi sosial. Lebih sedikitnya jumlah laki-laki dibanding wanita. Dari jumlah yang sedikit itu pun, ada diantaranya terkontaminasi penyakit homoseksual.

Tidakkah pemandangan ini memiriskan nurani kita? Akan bagaimana nanti nasib mayoritas kaum hawa yang butuh perlindungan? Gadis atau bahkan janda-janda yang suaminya jadi syuhada. Rabbana, betapa syariat ini tersedia sebagai jalan solusi untuk ini. Ragukah kita dengan hal ini?

Fokus pada pembahasan awal mengenai anggapan, kalaulah tidak dikatakan tuduhan, bahwa poligami identik dengan nafsu kaum lelaki. Berikut saya kutip tanggapan dari beberapa anggota:

Andai beramal dengan nafsu akan mendulang pahala karena nafsu disalurkan pada tempatnya. Kenapa tidak?

Implikasi nilai amal ketika seorang laki-laki “menyalurkan” sesuai jalan halal yang diperintahkanNya.

Andai berpoligami tak menggunakan nafsu malah bisa bahaya.

BACA JUGA: Ingat, Istri Juga Memiliki Nafsu Syahwat Seperti Laki-laki

Kalau tak pakai nafsu namanya sakit.

Kalau tak ada nafsu, kasihan istrinya.

Manusiawi karena namanya manusia itu, pasti punya nafsu.

Allah berfirman (yang artinya): “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih menurut Imam Nawawi.)

 

Maka, betapa urgennya atas kita, sebagai muslim, untuk mencontohkan poligami yang benar di masyarakat, sehingga bisa menepis anggapan bahwa poligami itu hanya karena nafsu dan biang kerok rusaknya keluarga. Bertekad melayakkan diri jadi praktisinya. Terus belajar, belajar, dan belajar. Sampai waktunya pasti Allah mudahkan. Mensyiarkan poligami sebagai bagian dari ajaran Islam.

Anda siap berbagi? []

 

SUMBER: PSI (Poligami Samara Ideologis)

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline