Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Tidak Mau Dipoligami? Bagaimana?

0

Agama Islam mempersyaratkan adanya kemampuan untuk benar-benar bertindak adil bagi suami yang ingin menikahi lebih dari satu orang istri, dengan membatasinya sampai paling banyak empat orang saja.

Islam juga memberi jalan bagi perempuan untuk menetapkan persyaratan atau mengambil janji dari calon suaminya, baik secara langsung ataupun melalui walinya, agar suami tidak berpoligami.

BACA JUGA: Poligami Adalah Ujian Keimanan bagi Istri

Dan jika hal itu telah ditetapkan bersama, maka janji dan persyaratan tersebut adalah sah dan berlaku untuk selanjutnya.

Apabila janji tersebut dilanggar, istri berhak menuntut agar perkawinannya itu di-fasakh-kan (dibatalkan), dengan segala konsekuensi yang harus ditanggung oleh sang suami. Dan hak fasakh tersebut tidak akan gugur kecuali perempuan itu sendiri yang menggugurkannya atau ia rela dan mengizinkan suaminya melanggar janji tersebut.

Begitulah yang ditegaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dikuatkan oleh Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim, dengan beralasan bahwa berbagai persyaratan yang mengikat sebuah pernikahan adalah lebih kuat dan lebih utama untuk dipatuhi daripada segala persyaratan yang mengikat transaksi pe

Dalil-dalil mereka antara lain, sabda Nabi Shalalallahu alaihi wasallam yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim, “Di antara berbagai persyaratan yang kamu sekalian paling berkewajiban mematuhinya ialah yang dibuat demi menghalalkan seorang perempuan untuk kalian nikahi.”

Bukhari dan Muslim juga merawikan dari Al-Miswar bin Makhramah bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berpidato di atas mimbar, “…bahwasanya keluarga Hisyam ibn Al-Mughirah (yakni keluarga Abu Jahl) telah meminta dariku agar mengizinkan mereka mengawinkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Tidak! Aku tidak mengizinkan. Aku tidak mengizinkan, kecuali (sebelum itu) Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku dan (baru setelah itu) menikahi putri mereka! Putriku (Fatimah) adalah bagian dari darah dagingku; apa saja yang menggelisahkannya, menggelisahkan aku juga. Dan apa saja yang mengganggunya, mengganggu aku juga.”

Selanjutnya, beliau mengisyaratkan tentang salah seorang menantunya yang lain dan memujinya seraya bersabda, berkata jujur kepadaku, dan berjanji kepadaku, lalu memenuhi janjinya. Dan sungguh aku tidak hendak mengharamkan sesuatu yang halal, tetapi–demi Allah—takkan pernah putri Rasulullah dan putri musuh Allah berhimpun di satu tempat!”

Berkaitan dengan peristiwa ini, Ibn Qayyim berkomentar bahwa sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut mengandung beberapa butir hukum, antara lain:

Apabila seseorang telah menjanjikan kepada istrinya bahwa ia tidak akan dimadu, wajib atasnya untuk memenuhi janjinya itu. Dan, sekiranya ia kemudian kawin lagi dengan perempuan lain, maka istri pertamanya berhak untuk mengajukan pembatalan (faskh) atas perkawinan dirinya dan suaminya itu.

Kesimpulan seperti itu dapat ditarik mengingat bahwa (dalam peristiwa keinginan keluarga Abu Jahl untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib r.a.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang demikian itu menimbulkan gangguan serta kegelisahan pada diri Fatimah r.a. dan hal itu dengan sendirinya juga menimbulkan gangguan dan kegelisahan pada diri beliau.

Tentunya diketahui pula secara pasti bahwa beliau tidak mengawinkan Ali r.a. dengan Fatimah r.a., kecuali atas janji bahwa ia tidak akan menimbulkan gangguan atau kegelisahan pada diri Fatimah, putri Rasulullah, tidak pula gangguan atau kegelisahan pada diri ayahanda Fatimah r.a. Kalaupun hal itu tidak disebutkan secara resmi dalam batang akad nikah, dapatlah disimpulkan secara pasti bahwa berdasarkan persyaratan seperti itulah Ali bin Abi Thalib diterima menikahi Fatimah r.a.

Dari sini dapat pula disimpulkan bahwa sesuatu yang dianggap janji atau persyaratan dalam `urf (adat kebiasaan umum), sama kekuatannya seperti janji atau persyaratan yang diucapkan secara lisan.

Atas dasar itu, tidak dipenuhinya suatu persyaratan seperti itu, memberikan hak bagi pihak yang dirugikan untuk membatalkan persetujuan yang telah diberikan.

Loading...

Maka, seandainya telah menjacli adat kebiasaan di antara suatu lingkungan masyarakat, misalnya, bahwa para wanita mereka tidak boleh dibawa pindah oleh para suami ke luar daerah mereka, dan bahwa adat seperti itu masih terus berlaku, maka yang demikian itu sama seperti persyaratan yang cliucapkan dengan lisan, dan karenanya para suami itu tidak berhak melanggarnya.

BACA JUGA: Jangan Sampai Praktik Poligami Tidak Sesuai dengan Teori yang Syar’i

Begitulah, di antara kaidah-kaidah yang ditetapkan Imam Ahmad bin Hanbal (rahimahullab) bahwa sesuatu yang dipahami bersama sebagai persyaratan berdasarkan adat kebiasaan, sama berlakunya seperti yang dipersyaratkan secara lisan.

Muslimah, disarankan pula membaca kembali atau menanyakan langsung kepada para alim ulama, atau ustad. Bagaimana pendapat para ulama tentang persyaratan apa saja yang ditetapkan sebelum atau pada saat berlangsungnya akad nikah. []

Sumber: Fiqih Praktis, Oleh Muhammad Bagir



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas