Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Berani Menikah? Siap Nikmati Seni Mengalah

0

Ketika mendengar kata menikah, yang masih single pasti berpikir itu adalah hubungan yang sangat indah. Hidup yang dramatis diisi dengan berbagai kasih sayang. Tapi, apabila yang mendengarnya adalah ibu rumah tangga atau seorang suami, maka mereka sudah lebih tau bagaimana itu menikah.

Bisa dikatakan menikah itu seni mengalah. Maksudnya bagaimana? Bagi yang masih menyendiri mungkin cukup aneh terdengarnya. Nyatanya, itu benar adanya.

BACA JUGA: Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

Beberapa bulan menjelang menikah, kala itu saya berusia 20 tahun. Sebenarnya target menikah sudah dari tahun lalu, tapi apadaya Allah berlum mengijinkan.

Tidak lama lagi saya akan mengakhiri masa single ini. Tapi, apakah penantian itu berjalan mulus? Tentu saja tidak.

Tidak ada yang berjalan damai. Mulai dari persiapan menikah yang berbeda pandangan. Sampai kemauan orangtua yang membuat pusing kepala.

“Nikah itu berani melangkah dan seni mengalah.” Itulah ucapan ibu yang mengetuk hati saya sehingga mampu mengambil keputusan untuk menikah dalam waktu dekat.

Sebenarnya kata berani itu sedikit horror. Bagaikan berani mati untuk hidup. Tapi, dengan terdengarnya kata mengalah, maka saya paham jika menikah merupakan tugas besar.

Mengalah. Sampai pada akhirnya bertemu dengan suatu waktu dimana peran yang tidak mudah ini saya jalankan.

Beberapa tahun lalu, saya banyak belajar pada lelaki yang kini menjadi pendamping hidup. Sederhana adalah rumus yang ampuh menghadapi segala kesulitan yang terus menghadang. Tak lupa juga sabar dan shalat.

Saat ada sepotong roti, dia tidak akan berani memakannya. Pura-pura kenyang adalah jurus yang digunakan saat ia tak tega melihat saya tidak makan.

Sudah banyak kebohongan yang dia buat. Demi sebuah kebaikan.  Bahkan ketika saya marah akan suatu hal yang tidak masuk akal, ia akan mendekat, mengangsurkan tangan dan meminta maaf. Padahal ia pun tak tahu apa dosanya.

Inilah menikah dengan seni mengalah. Entah bagaimana saya akan membayangkan jika suatu saat ia bosan dengan saya. Namun, sekejap saja hal itu menghantui pikiran saya, sikap yang ia perlihatkan akan mematahkan prasangka yang buruk itu.

BACA JUGA: Nasihat untuk Muslimah yang Baru Menikah

Tentu saja, mengalah tidak hanya dilakukan oleh satu pihak saja dan pihak yang lain memanfaatkan sikap ngalah itu. Kedamaian akan menjadi angan apabila seperti itu.

Apabila saya tanyakan padanya atas dasar apa ia menjadi sesabar itu dengan sering mengalah. Ia hanya menjawab dengan sederhana, sesederhana orangnya. “Aku tidak pernah merasa mengalah, yang aku lakukan hanya menjaga agar kita tidak sampai berpisah.” []

Loading...

SUMBER: KELUARGA BAHAGIA



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas