Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jika Berlaku Keras terhadap anak

0

Kasus perlakuan salah secara fisik (physicalabause) yang dilakukan orang tua, memang tak sebanyak kekerasan seksual (sexual abause). Ini karena sedikitnya jumlah yang melapor. Tak mengherankan, karena kebanyakan orang beranggapan kerasan fisik adalah suatu yang normal. Ini merupakan cara mendidik anak atau urusan rumah tangga masing-masing. Kasus baru terekspos jika jiwa melayang atau betul-betul ekstrem.

Kekerasan fisik yang dilakukan orang tua umumnya diawali sebagai bentuk dari hukuman. Dan untuk membentuk perilaku anak, ada orang tua yang cenderung menggunakan punishment, atau hukuman.

Dampak sesuai usia anak

Anak usia 0-25 tahun

Perkembangan anak terhambat, yang ditunjukkan dengan menarik diri dari lingkungannya dan toleransi terhadap frustasi yang rendah. Anak lebih rewel, biasanya diikuti masalah-masalah fisik.

Anak usia 3-6 tahun

  1. Perkembangan terhambat, terutama bahasa. Anak takut bicara karena takut menjadi target kemarahan.
  2. Toleransi terhadap frustasi yang rendah, anak mudah dan sering menangis. Biasanya ia tidak tahu cara tepat mengatasi stres.
  3. Ekspresi emosi terganggu. Anak seringkali tidak tepat berperilaku. Penyiksaan membuat si kecil tak dapat mempelajari respons emosi yang seharusnya.

Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki,” (An- Nisa: 48)

Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasihat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar,” (Luqman: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: ‘Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah, kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran’.”

Loading...

Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang di mana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Dalilnya antara lain, “Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy,” (Thaha: 5).

Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

Adapun dari hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?” Budak tersebut menjawab, “Allah di langit.” Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” Budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah.” Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah,” (HR. Muslim dan Abu Daud). []

Dikutip dari: Ayah dan Bunda/Karya: Fery Santoro/PT Aspirasi Muda]



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline