Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ayah Rumah Tangga? Wah …

0

Ada apa dengan perubahan jabatan seorang ayah di dalam keluarga? Kini tidak sedikit seorang ayah beralih pekerjaan menjadi pengatur rumah tangga.

Fenomena ini menjadi sorotan di zaman yang elit ini dengan dihadapkan pada problem klasik,. Ntah, apa yang membuat seorang ayah rela mengorbankan kedudukannya dalam keluarga.

Namun sebenarnya permasalahan yang akan mengaitkan kepemimpinan dalam keluarga ini, tidak lain ada sebab tertentu yang dapat memperkuat perubahan tersebut.

Akan tetapi, seorang suami sangat berat dalam mempertanggungjawabkan tanggung jawabnya, seperti

1. Tanggung jawab memberi nafkan yang secukupnya, baik lahir maupun batin,
2. Tanggung jawab menyediakan tempat tinggal yang selayaknya,
3. mendidik akhlak dan agama dengan baik,
4. mengayomi, melindungi kehormatan dan keselamatan istrinya.

Namun, bagaimana tanggung jawab tersebut tidak terlaksana dengan sempurna?

Secara umum, pembagian tugas rumah tangga antara suami-istri memang belum menjadi isu utama di keluarga-keluarga masyarakat kita.

Istri yang menjadi tanggung jawab nya di dalam rumah tangga, denga begitu lelahnya menjadi seorang wanita apa lagi jika ia sudah menikah dimana ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangganya dari memasak, mencuci piring, mencuci baju, belanja kepasar, beres- beres rumah, mengurus anak belum lagi harus melayani suami. Sedangkan pekerjaan laki- laki monoton hanya mencari nafkah.

Hingga ada suatu kisah seorang ulama yang melakukan segala pekerjaan rumah tangganya sampai- sampai si istri berkata, “Semua telah engkau kerjakan, lalu aku harus mengerjakan apa?”

Dari situ bagaimana hak-hak dan kewajiban suami istri sesungguhnya dalam pandangan Islam. Karena selama itu yang saya tahu, bahwa istri harus tunduk pada suami.

Padahal maksud tunduk di sini bukan dalam segala hal, tetapi hanya dalam hal kepemimpinan suami dalam rumah tangga yang tidak bertentangan dengan ajaran-Nya, misal suami ingin tinggal di Jakarta, maka istri harus ikut suami dan masih banyak contoh lainnya.
Dan Islam memandang pekerjaan rumah tangga itu bukan kewajiban istri .

Tetapi kemaslahatan dalam rumah tangga, baiknya hal ini tidak dijadikan senjata istri untuk meminta haknya sehingga tidak mau membuatkan teh sekalipun untuk suaminya, karena dianggap itu bukan kewajibannya. Namun suami juga tidak berhak memaksa istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut.

Sebenarnya kewajiban istri itu hanyalah melayani kebutuhan biologis suaminya. Jika istri ingin melaksanakan pekerjaan tersebut, maka itu menjadi tugas (bukan kewajiban), dimana terlebih dahulu hal itu dibicarakan suami terhadap istri untuk membagi tugas tersebut, dan suami istri sepakat.

Karena ketidak tahuan antara hak dan kewajiban masing- masing, mudah sekali terjadi keributan karena pekerjaan domestik ini. Jika setelah didiskusikan suami tidak mau ikut membantu, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan istri selain bersabar karena semua apa yang dikerjakannya pasti mendapat pahala kebaikan dariNya.

Tak mengherankan jika tidak ada support system dalam keluarga yang suami-istri bekerja, tidak ada keluarga yang bisa dititipi anak, dan tidak ada ART yang bisa diandalkan, maka istri yang lebih banyak mengundurkan diri. Meski, katakanlah, karier si istri sebetulnya lebih cemerlang.

Hal ini menjadi pendobrak tradisi yang ada dimasyarakat. Kini bapak rumah tangga pun menjadi ‘profesi’ yang tak kalah membanggakan. []



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline