Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Suara Perempuan, Aurat?

0

Banyak sekali bermunculan wanita yang menjadi pembicara dihadapan banyak orang, menimbulkan kekaguman bagi laki-laki yang melihatnya. Di ruang dakwah pun demikian adanya. Lalu, apakah benar suara perempuan termasuk aurat?

Menurut Imam Hanafi, suara perempuan bukanlah termasuk aurat. Pendapat ini didasarkan karena para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah bercakap-cakap dengan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mendengar suaranya.

BACA JUGA: Bunda, Didiklah Anak Perempuan untuk Percaya Diri sebagai Muslimah

Namun menurut Imam Syafi’i, suara perempuan adalah aurat di hadapan laki-laki bukan muhrim (ajnabi), apakah dikhawatirkan terjadi fitnah atau tidak.

Sebagian lagi berpedapat suara perempuan bukanlah aurat jika percakapan dengan ajnabi itu memang penting dan tidak dikhawatirkan suaranya (merayu). Pendapat ini berlandaskan beberapa dalil, antara lain sebagai berikut:

1. Para istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercakap-cakap dengan para sahabat Rasulullah, dan mereka belajar hukum-hukum agama darinya.

2. Pada suatu ketika Umar bin Khathtab Ra hendak menentukan jumlah mahar, tetapi ditolak oleh seorang perempuan dari sudut masjid sambil membaca firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

وَإِنۡ أَرَدتُّمُ ٱسۡتِبۡدَالَ زَوۡجٖ مَّكَانَ زَوۡجٖ وَءَاتَيۡتُمۡ إِحۡدَىٰهُنَّ قِنطَارٗا فَلَا تَأۡخُذُواْ مِنۡهُ شَيۡ‍ًٔاۚ أَتَأۡخُذُونَهُۥ بُهۡتَٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا ٢٠

“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain , sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata,” (QS. An-Nisa’ : 20).

Umar tidak membantah perempuan tersebut, begitu pula para sahabat yang lain. Bahkan umar berkata, “Perempuan itu betul, dan Umar salah.”

3. Ketika terjadi perselisihan anatara Abu Bakar Ra dengan Fatimah Az-Zahra, Fatimah pergi menemui Abu Bakar yang ketika itu telah menjadi khalifah. Fatimah berbicara sewajarnya, mengenai hal yang dianggapnya menjadi haknya. Dan terjadilah perdebatan antara dia dengan khalifah.

BACA JUGA: Arti Aurat Bagi Calon Penghuni Syurga

Peristiwa-peristiwa tersebut dan beberapa peristiwa lainnya menjadi dalil, suara perempuan bukan aurat selama berada dalam batas-batas percakapan biasa, dan tidak ada nada-nada suara rendah dalam bercakap-cakap (tidak merayu). Karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ وَقُلۡنَ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا ٣٢

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (QS. Al-Ahzab:32).

Begitulah adab berbicara yang diperintahkan Allah kepada para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang harus diikuti pula oleh setiap perempuan muslim. Allah memerintahkan para perempuan agar tidak melembutkan dan memerdukan suaranya bila berbicara dengan laki-laki asing (bukan muhrim). []

Loading...

Sumber: Fiqih Perempuan/Muhammad ‘Athiyah Khumais/Media Da’wah/ Tahun 2002



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline