Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jika Anak Bersalah

0

Oleh: Shinta Wahyu, [email protected]

HUSIN  masih mengurung diri di kamar. Sejak semalam, tidak mau makan dan tidak berbicara dengan siapapun. Ayah masuk dan mendekatinya. Duduk di sisi tempat tidur Husin.

“Ada apa?” tanya beliau lembut.

“Ayah, semalam Umi memarahiku.”

BACA JUGA: Pahami Adab dalam Menasehati Orang Tua yang Tidak Sholat

“Kenapa Umi sampai marah?”

“Aku sedang bercanda dengan Adik, Yah. Aku tidak sengaja berbicara kasar padanya.”

“Itu sebabnya kamu menjadi marah dan murung? Kamu tahu, sebenarnya Umi bukan marah padamu. Beliau hanya menasehatimu.”

“Ayah, kalau Umi hanya ingin menasehatiku kenapa ucapannya menyakitkan?”

“Nanti Ayah jelaskan. Sekarang, bantu Ayah dulu memperbaiki pintu dapur. Ayo!”

Dengan kelembutan ayahnya, Husin luluh. Kemudian beranjak mengikuti ayahnya menuju dapur.

“Lihat, pintu ini perlu dipaku. Tolong ambilkan Ayah paku dan palu.”

Husin menurut meski dalam benaknya bertanya-tanya. Kenapa hanya untuk mengambil palu dan paku saja harus menyuruh dirinya? Bukankah itu bisa beliau kerjakan sendiri? Bukankah Ayah dan Umi mengajarkan padanya bahwa, selama kita masih bisa mengerjakan sesuatu atau hal-hal kecil sendiri, jangan menyuruh orang lain.

“Ini, Ayah!” Husin menyodorkan alat yang diminta ayahnya. Kemudian Ayah memaku bagian pintu yang renggang tersebut.

“Sudah selesai. Ayo, kita duduk di sana!” Mereka menuju ruang tamu. Tampak Umi sedang membaca koran, “Ayo, apa kamu tidak mau minta maaf pada Umimu?”

Husin bergeming. Lalu ragu-ragu dia melangkah mendekati Umi di sofa. Husin lalu merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.

Loading...

” Umi, Husin minta maaf. Husin salah,” Umi membelai kepala putra sulungnya itu.

“Umi maafkan, tapi jangan diulangi lagi ya. Itu tidak baik. Umi juga minta maaf ya Sayang,”

BACA JUGA: Wahai Istri, Nasehatilah Suamimu agar Mau Shalat Berjamaah

“Husin, seperti pintu tadi. Kalau dibiarkan saja maka akan rusak dan bisa mencelakai. Seandainya pintu tadi bisa bicara, tentu dia akan berteriak kesakitan saat ayah menancapkan paku. Tetapi dengan paku dan ketukan palu maka pintu itu sekarang sudah kembali baik dan tidak berbahaya.

“Begitu pula dengan nasihat. Terkadang, nasihat itu terasa menyakitkan, tetapi itu demi kebaikanmu. Karena kami menyayangimu,” kata Ayah. Kini Husin bisa tersenyum dan ceria kembali. []

-Surakarta 110116-



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline