Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bagaimana Cara Berpuasa Umat Terdahulu? Wah Ternyata Sangat Berat

0

Pernahkah kita bertanya apakah berpuasa hanya di syari’atkan kepada umat Rasulullah saw saja? Pada kenyataannya berpuasa juga disyariatkan kepada umat-umat terdahulu sebagaimana dalam firman Allah, “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada agama Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (QS.Al-Hajj: 67)

Syariat puasa bukanlah hanya diturunkan kepada umat Rasulullah. Sesungguhnya syari’at unruk berpuasa telah ada hampir setua umat Islam. Surat Al-Hajj ayat 77 tersebut mempertegas bahwa disetiap  kehidupan umat manusia terdapat syari’at khusus. Adapun syari’at berpuasa yang diwajibkan pada umat Rasulullah telah di syari’atkan pula pada umat terdahulu sebagaimana dijelaskan dalam QS.Al-Baqarah ayat 183, “….kepada umat mat sebelum kita).

Shaum di zaman ummat Nabi Zakaria, Maryam dan ‘Isa.  Syari’at puasa bagi umat para rasul tersebut adalah: “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu, jika kamu melihat seorang manusia, Maka katakanlah: Sesungguhya aku telah bernadzar untuk berpuasa bagi yang Maha Pemurah, maka aku  tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS Maryam:26)

Makna shauma dalam ayat tersebut sebagaimana dikemukakan Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya yaitu shaamat minat tha’aam wasy syaraab wal kalaam (berpuasa makan, minum dan bicara).

Sedangkan Syari’at puasa Bani Israil sebagaimana dikatakan Imam As-Suddi dikatakan: “Barang siapa yang ingin bersungguh-sungguh berpuasa maka tidak boleh makan dan berbicara sampai senja hari.”

Maka puasa mereka tentu lebih berat yakni dengan tpuasa berbicara pula. Maka apa alasan kita merasa berat berpuasa padahal Allah telah meringankan tugas kita. []

Sumber: Menikmati Ramadhan Bersama Keluarga. Ghafur Wibowo. Biruni Press:Sleman. 2008



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline