Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Memuliakan Tamu, Buah dari Keimanan

0

“Silahkan dimakan, Mbak” katanya sambil menyuguhkan beberapa potong gorengan, donat dan dua gelas es yang baru dibuatnya. Saya dan seorang teman saya hanya tersenyum kecil, malu.

Kami lalu memulai obrolan ringan sembari menikmati donat yang disuguhkannya kepada kami. Beberapa saat kemudian, mbak Ria masuk ke dalam rumah lantas keluar dengan satu bakul mangga di tangannya.“Mbak, ini ada mangga. Silahkan dimakan”
Kini satu bakul mangga di hadapan kami. Tanpa rasa malu, saya langsung menyergap buah mangga itu. Wah betapa tidak, kemaren saya baru saja niat membeli mangga di tempat biasanya, eh sekarang sudah ada di depan mata.

Belum habis mangga di tangan saya, mbak Ria masuk ke dapur lagi. Saya mengekor di belakangnya sekalian mau melihat-lihat ruangan rumah. Aah ternyata perabotannya belum banyak, pikir saya waktu itu.

“Mbak membuat apa?” tanya saya sambil mengamati isi rumah
“kolak kacang ijo” jawabnya sambil mematikan kompor gas. Di atasnya sebuah panci kecil dengan kolak kacang ijo yang masih mengeluarkan uap.

Kami lalu berjalan ke ruang tamu dengan dua mangkuk kolak kacang ijo. Hm, Padahal, sebelum berangkat tadi saya sempat ngelirik gerobak penjual kacang ijo di samping penjual bubur ayam. Alhamdulillah sekarang ada di depan mata

“Mbak? Apalagi ini?” tanya saya saat melihat mbak Ria mengeluarkan nasi beserta lauk pauknya, ada mie, ada sambil teri, telur dadar dan sayur lodeh .Apa pula ini?

“Ayuk dimakan” katanya lagi diantara kebengongan saya melihat perlakuan mbak Ria dan suami terhadap kami. Super istimewa!

Kami hanya diam menatap semua makanan di depan kami. “Kenapa bisa sebanyak ini?” pikiran saya melayang entah ke mana. Sementara terdengar suara sepasang suami istri ini terus mempersilahkan kami.
Aaah ya sudahlah makan saja lagi,  meskipun sebenarnya saya malu karena tak dinyana silaturrahmi kami kali ini bakal mendapatkan perlakuan seistimewa ini.

“Udah mbak, ga usah dicuci. Biar nanti aku aja yang cuci”
“Ah tidak apa-apa mbak” saya memaksakan diri membawa beberapa buah piring bekas makan kami kewastafel.

“Sudah mbak, ga usah dicuci. Tamu datang bukan untuk mencuci piring” kata suami mbak Ria dari ruang tamu yang hanya berjarak beberapa meter dari dapur.
Tapi saya tak menghiraukannya, saya terus melanjutkan mencuci piring hingga usai meski tidak semua.

Setengah jam kemudian, kami pamit pulang. Namun mbak Ria, tidak tinggal diam. Satu kantong plastik yang berisi mangga dan kolak kacang ijo disuruhnya untuk kami bawa pulang ke asrama.

Aduh kami jadi malu. Ke sini tak bawa apa-apa, eh pulang kenyang. Dapat mangga pula. Subhanallah!

Dalam perjalan menuju asrama saya terus berpikir dengan perlakuan sepasang seorang suami istri yang sudah hafal 30 juz ini. Perlakuan yang istimewa untuk seorang tamu. Padahal kami baru mengenalnya dua pekan yang lalu, saat mbak Ria mulai mengajar di sekolah kami.

Ini adalah pelajaran berharga sekaligus tamparan buat kami. Bagaimana kami seharusnya memperlakukan seorang tamu. Bahwa sudah seyogyanya seorang tamu diperlakukan istimewa.

Walaupun terkadang memang berat, apalagi kondisi ekonomi sedang terhimpit seperti mbak Ria. Tapi cara beliau dan suami memperlakukan tamu, adalah implikasi dari keimanannya sekaligus menunjukkan kemuliaan dan kebersahajaan akhlaknya yang selama ini kami kenal kebaikannya.

Saya jadi ingat hadits Rasululllah, yang artinya “dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda : ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung tali perasudaraan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih). Waallahu a’lam bish-showab. []

 

Sumber: Muslimah



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas