Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Usia Semakin Matang Tapi Belum Dipertemukan, Jangan Galau!

0

Menjalani hari-hari penuh kebahagiaan? Pasti mau dong! Tapi bagi muslimah yang masih melajang di saat kebanyakan rekan sebaya sudah menikah, hidup bisa jadi terasa kurang membahagiakan. Apa yang bisa dilakukan?

Menjadi manusia berbahagia memang impian setiap orang. Siapa tak senang kalau titian hari-harinya dilewati dengan kesenangan, kegembiraan, kepuasaan dan kecukupan. Dalam pandangan umum, ini bisa diraih bila kesuksesan sudah berada dalam genggaman. Dan dengan itu, hidup rasanya bahagia sekali.

Cuma, ukuran sukses tentu macam-macam. Ada orang mengukur sukses dengan capaian-capaian harta benda. Punya rumah sendiri, mobil sendiri, perhiasan sendiri, tabungan sendiri. Ada yang mengukurnya dengan capaian-capaian ilmu, kedudukan, pengakuan sosial, pangkat atau jenjang karir tertentu. Ada pula yang mengukurnya lewat capaian ketenangan batin, keharmonisan keluarga, kemantapan emosi dan kestabilan spiritual.

Sah-sah saja tentu, manakala impian-impian kesuksean ini dibangun dan dijadikan motivasi untuk giat berkarya mencapai tujuan. Hanya sangat disayangkan, sebagian orang masih menjadikan setiap ukuran kesuksesan ini sebagai sumber kebahagiaan sejati. Tak heran, ada satu saja belum diraih,-semisal jodoh yang belum datang-pandangan hidupnya segera berubah drastis. Hidupnya menjadi jauh dari rasa bahagia.

Cemas hingga mengisolir diri

Bagi seorang perempuan, masa emasnya dalam bereproduksi adalah pada usia antara 20 hingga 35 tahun. Maka, tak heran, banyak perempuan merasa resah manakala usia telah mendekati angka kepala tiga namun jodoh tak kunjung tiba. Keresahan yang bermula dari kekhawatiran ini-khawatir jodoh tak akan datang, khawatir kehilangan kesempatan emas masa reproduksi, khawatir dengan pandangan umum, menurut Psikolog Tika Bisono sesungguhnya merupakan satu kewajaran, sepanjang tidak memunculkan efek negatif pada dirinya sendiri, apalagi pada orang lain.

Tika lantas menjelaskan tiga tipe perempuan dalam menyikapi kekhawatirannya soal jodoh. Pertama, perempuan yang punya rasa khawatir sedikit saja, maka ia cenderung tak akan membiarkan rasa khawatir ini menguasai hidupnya. Bahkan ia mampu mengalihkan kekhawatiran itu dengan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan.

Kedua, perempuan yang memiliki rasa khawatir tingkatan menengah. Pada tipe kedua ini, kekhawatirannya telah mewujud dalam bentuk hadirnya stress ataupun rasa frustasi.

Sementara perempuan yang tinggi kekhawatirannya soal belum datangnya jodoh, tak hanya merasa stress atau frustasi, ia bahkan cenderung mengisolir diri dari kegiatan umum atau sosial. “Ia bisa jadi malas keluar rumah, atau enggan datang ke berbagai kegiatan umum,” papar lulusan Universitas Indonesia ini pula.

Kelola kekhawatiran dengan iman 

Persoalannya kemudian, bagaimana seorang muslimah bisa menjaga agar kekhawatirannya ini tidak berlarut dan kalau bisa diminimalisasi saja?

Allah memang telah menentukan takdir jodoh di alam rahim bagi setiap manusia. Hanya saja, kita tak tahu dengan siapa, kapan hadirnya, dan apakah jodoh kita hanya satu ataukah lebih. Bahkan bukan tak mungkin, urai Ustazah Sita, jodoh hakiki kita justru akan Allah berikan kelak di akhirat, sebagaimana yang terjadi pada Maryam ibunda Nabi Isa yang tidak mendapatkan jodoh di dunia, atau Asiah isteri Fir’aun, Nabi Nuh dan Nabi Luth, manusia-manusia utama yang di dunia mendapatkan jodoh buruk.

Karena itu lanjut Sita, memikirkan soal jodoh atau memiliki sedikit kekhawatiran bila belum juga mendapat jodoh tidak jadi soal asal tidak menjadi obsesi. “Terobsesi dengan pernikahan malahan akan memandulkan potensi,” terang dosen agama Islam di Fakultas Sastra UI ini mengingatkan. Sebab, obsesi pernikahan bisa menyita energi batin dan pikiran yang semestinya bisa digunakan untuk melakukan aktifitas-aktifitas berharga lainnya.

Soal bagaimana menebalkan keyakinan ini tentunya tidak terlepas dari pesoalan iman di dada. “Seberapa besar dia percaya pada garis yang sudah ditentukan Allah dan seberapa dalam dia bisa menyadari bahwa dirinya tak berdaya soal jodoh ini dapat memunculkan dampak positip secara psikologis,” jelas Tika Bisono lagi.

Psikolog yang mantan penyanyi ini lantas menjelaskan bahwa keyakinan atau iman seseorang dapat memunculkan kepasrahan, sementara  kepasrahan dapat menumbuhkan kualitas hidup yang baik pada diri seseorang, terutama dalam hal kemampuan menerima kenyataan hingga pandangan hidup dan prasangkanya pun selalu positip.

Memilih untuk bahagia

Loading...

Keyakinan bahwa jodoh adalah soal takdir dan kepasrahan tentu sama sekali tidak berarti bahwa seorang muslimah cukup berdiam menanti takdir Allah berlaku sendiri.

Ikhtiar dengan sungguh-sungguh tetap harus diupayakan dan terutama, Sitaresmi mengingatkan, yang terbaik adalah bila lakukan sejak awal masa emas reproduksi, misalnya sejak usia awal 20an.

“Jangan sok gengsilah, dengan menyatakan tak mau menikah dulu karena baru umur kepala dua. Padahal secara bertahap kan akan kepala tiga juga. Berpikir ilmiah saja, bila usia reproduksi terbaik adalah antara 20 hingga 35 tahun, ya gencarkanlah ikhtiar di masa sebelum usia 30an,” Ibu tujuh anak ini menguraikan panjang lebar.

Banyak jalan ikhtiar bisa ditempuh, entah dengan memperluas silaturahmi, meminta bantuan orangtua atau teman, memperbanyak doa dan munajat kepada Allah, hingga  memberanikan diri melamar lelaki yang diminati lewat perantara.

Namun memang, apa yang kita harapkan dan usahakan tidak selalu berlaku sesuai dengan kehendak kita. Bila Allah belum mentakdirkan, sekeras apapun ikhtiar kita dalam mencari jodoh, sang jodoh tentu tak kunjung datang.

Kalau sudah begini, sekali lagi, jangan terjebak untuk berpikir bahwa diri ini sudah kehilangan kebahagiaan. Sedikit sedih dan khawatir, okelah. Tapi merasa tak bahagia karena belum menikah?

“Kebahagiaan itu datangnya dari dalam diri kita sendiri, kok,” Kinkin Annida, pendiri Sekolah Kepribadian Moslem Glowsmengingatkan. “Kalau hati kita merasa bahagia, ya hidup akan terasa bahagia,” tambahnya pula.

Trainer yang hobi travelling ini lantas menuturkan bahwa kebahagiaan hati pada dasarnya bisa diatur atau direkayasa. Caranya? Tentu saja dengan membuat rangsangan-rangsangan yang bisa memicu munculnya kebahagiaan.

Karena itu Kinkin lantas mengajak kita semua untuk secara rutin mengkonsumsi hal-hal yang membahagiakan dan membiasakan seluruh panca indera menyerap hal-hal yang membahagiakan pula. []

 

 

Sumber: Ummi



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas