Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Kisah Ibu dengan 25 Orang Anak

0

Mak Eros menikah kali pertama ketika lulus Sekolah Dasar (SD). “Kalau tidak salah, umur saya 13 tahun,” ujarnya. Tapi dari pernikahan pertamanya, ia tidak mendapatkan anak. Akhirnya mereka berpisah. Mak Eros kemudian menikah lagi.

Dari pernikahannya yang kedua, ia memiliki lima orang anak, tapi empat diantaranya meninggal ketika berusia 4-7 tahun. Hanya satu yang masih hidup, namanya Nani. Namun kemudian, suami kedua Mak Eros meninggal dunia. Akhirnya, Mak Eros pun menikah lagi dengan Bapak Asep Sumarna, duda empat anak. “Total, saya punya lima orang anak,” katanya mengenang.

Saat itu ia merasa, lima anak sudah cukup, mengingat penghasilannya (sebagai pedagang keliling) dan suaminya (sebagai tukang becak) terbilang tidak cukup, juga karena rumah mereka yang luasnya hanya 2×8 meter tidak akan bisa menampung banyak anggota keluarga.

Tapi, rupanya Allah punya rencana lain. Mak Eros kemudian hamil anak pertama dari Bapak Asep ketika anak terkecilnya baru berusia 4 bulan. Ia pun gelisah ketika harus mengabarkan kehamilannya kepada sang suami. tapi menurutnya, yang namanya suami-istri, semuanya harus dibicarakan. Mak Eros pun dengan hati-hati bicara pada suaminya, “Kang, yang sabar ya. Saya hamil deui. Maaf.”

Ia pikir suaminya akan marah lalu meninggalkannya karena hamil. Ternyata dugaannya salah, Bapak Asep malah memegang perut istrinya sambil berujar, “Iya ada bayi lagi. Ngga apa-apa, sampai 50 anak juga tidak apa.” Lega rasanya, mereka pun tertawa bersama.

Agar roda kehidupan terus berjalan, ia terus membantu suaminya mencari penghasilan tambahan. Penghasilan suaminya sebagai penarik becak paling besar Rp 20 ribu, dan keuntungan Mak Eros berjualan gorengan dan agar-agar keliling sekitar Rp 10 ribu sehari, itu pun dengan jualan tiga kali sehari, setiap pagi, siang dan sore. Anak yang kecil diasuh oleh kakaknya.

Di tengah kesibukannya, Mak Eros hamil lagi dan lagi. Pernah ia melahirkan jam 12 malam, jam 6 pagi sudah keliling jualan lagi. “Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Mungkin ini berkah Allah. Kalau sakit, paling parah ya masuk angin saja,” ujarnya tertawa.

KB Pun Gagal

Waktu anak Mak Eros sudah delapan orang, ia berpikir untuk ikut program Keluarga Berencana (KB), tujuannya sederhana, supaya bisa memperjuangkan anak-anak, paling tidak untuk makan. Agar ia bisa bantu-bantu kerja lagi. Tapi KB ternyata gagal. Mak Eros hamil lagi anak ke sembilan. Setelah melahirkan, ia ikut KB lagi, kali ini yang suntik. Tapi ia malah pendarahan dan sempat sakit. Bapak Asep kasihan melihat istrinya, ia bilang, “Ya sudahlah, nanggung anak sudah banyak, tidak apa-apa. Anak itu sudah bawa rezeki masing-masing. Tidak usah takut tidak bisa kasih makan.”

Setiap hamil, Mak Eros tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menggugurkan janin dalam kandungannya. “Jangankan menggugurkan, waktu lahir ada yang minta saja, saya tidak berikan.. Saya mau membesarkan anak-anak saya sendiri. Saya juga tidak mau meminta-minta belas kasih orang. Biar saya dan suami yang berusaha keras menghidupi anak-anak.. Nyaah sae ku saena. Awon ku awona. (Anak itu, kalau baik, disayang karena kebaikannya. Kalau kurang, disayang karena kekurangannya). Jadi sayang kalau mau dikasih ke orang. Susah-susah kita mengandung. Kalau soal rezeki mah Allah Maha Tahu. Saya dan Kang Asep menyadari, karena anak banyak, jadi usaha kita juga ditambah.”

Bukan satu dua orang yang menasihati Mak Eros,agar jangan banyak-banyak punya anak. Dari orangtua sampai tetangga, semua bilang begitu. “Saya juga inginnya begitu. Tapi mau bagaimana lagi, saya juga tidak bisa cegah, tidak bisa nolak juga. Ini namanya takdir. Dicegah sekuat tenaga, tidak akan bisa. Saya yakin Allah akan bantu. Allah juga tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya..” jawab Mak Eros mantap.

Ada hal yang lucu, tentang nama-nama anak Mak Eros. Salah seorang anak Mak Eros diberi nama Cucep. Sejarahnya, ketika dalam kandungan Mak Eros yakin Cucep akan jadi anak terakhirnya, maka diberi nama Cucep (Ucu nu Kasep) artinya anak bungsu yang ganteng. Tapi ternyata setelah Cucep, Mak Eros hamil lagi. Waktu anak ke 12, diberi nama Tosin (Atos Salusin) yang artinya sudah selusin. Tapi ternyata setelah Tosin, masih ada lagi. Maasya Allah.

Semua anak Mak Eros lahir dengan normal, tidak ada yang operasi (caesar) dan tidak ada masalah, baik saat dalam kandungan atau saat lahir. Setelah melahirkan pun semuanya normal saja, padahal Mak Eros jualan lagi, bawa dagangan banyak, dan setelah jualan mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Makan Dengan Garam Juga Enak

“Punya anak banyak itu menyenangkan,” kata perempuan yang tinggal di Plered, Purwakarta ini. “Rasanya semangat terus. Meski harus jualan, ngurus anak dan rumah tangga sekaligus. Saya tidak malu punya anak banyak. Saya malah malu kalau ada anak saya yang nangis dan terdengar tetangga karena lapar, tidak bisa makan. Makanya saya tidak mau seperti itu, jadi saya semangat jualan terus,” lanjutnya.

Kalau Bapak Asep pulang menarik becak membawa uang Rp 10 ribu, itu hanya cukup buat dua liter beras. Sedangkan sekali masak untuk keluarganya paling tidak enam liter beras untuk sekali makan. “Nanti siangnya saya jualan lagi untuk nyambung makan. Lauknya juga tidak pernah mewah, tempe dan kecap juga sudah alhamdulillah. Pernah juga karena tidak ada lauk, nasi panas dicampu garam. Itu juga enak..” ceritanya lugu.

Loading...

Setiap pulang jualan biasanya Mak Eros mencuci pakaian banyak, setelah itu mencuci piring, memasak, memandikan anak-anak, kemudian makan bersama. Setelah makan anak-anak Mak Eros mengaji di mushala. Atau kalau pagi, ada yang berangkat sekolah. Anak-anak Mak Eros tidak ada yang diberi bekal uang, minta juga mereka tidak pernah. Kalau lapar, mereka pulang untuk makan. Mereka juga tidak pernah merengek dibelikan barang-barang. Anak-anak Mak Eros memang menyadari betul kondisi orangtuanya.

“Kalau lebaran semuanya kumpul.. Rumah jadi ramai dan riuh. Lebaran, masak daging minimal harus 10 kg. Itu pun tidak harus daging sapi atau kerbau. Tapi daging entog, soang, bebek, ayam, pokoknya yang penting daging. Anak-anak juga tidak ada yang protes.. ” cerita Mak Eros sambil tertawa.

“Alhamdulillah, anak-anak sudah besar semua. Bagi saya, melihat mereka bisa mandiri dan bahagia, sudah cukup membuat saya bahagia.. Melihat mereka akur dan bisa kumpul-kumpul, saya sudah bersyukur,” ujarnya haru. (Majalah Tarbawi /muslimahzone)



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

You might also like
Comments
Loading...

Maaf Ukhti Antum Offline

Lewat ke baris perkakas